Putus cinta merupakan salah satu keadaan yang sering dialami oleh remaja. Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Apostolos, seseorang yang mengalami patah hati cenderung mempunyai perasaan yang tidak nyaman baik secara batin dan keadaannya seperti seseorang yang sedang sakit fisik.
Remaja yang patah hati kebanyakan akan melakukan hal-hal yang destruktif. Perilaku merugikan diri sendiri tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan pengendalian emosi, karena di tahap ini remaja masih dalam proses pencarian jati diri.
Pengalaman putus cinta yang dialami akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Kesedihan mental yang dialami dapat mengganggu aktivitas rutin dan berujung pada penurunan nafsu makan, sakit, mengidap penyakit mental, atau bahkan berisiko pada tindakan yang lebih ekstrem seperti melukai diri sendiri (self-harm) dan bunuh diri.
Elisabeth Kubler-Ross, dalam bukunya yang berjudul 'On Death and Dying', sebagaimana dikutip dari jurnal yang diterbitkan oleh UIN Jakarta, menggambarkan 5 stage of grief atau lima tahapan emosi seseorang saat mengalami kehilangan. Meskipun penelitiannya berfokus pada pasien-pasien rumah sakit yang divonis mengidap penyakit yang mematikan, konsep ini dapat diaplikasikan pada pengalaman putus cinta.
Kelima tahapan itu bukanlah proses yang berurutan, kondisinya dapat muncul secara acak atau bahkan tidak dialami semuanya oleh seseorang yang sedang berduka.
1. Tahap pertama adalah Penyangkalan diri (Denial)
Denial dapat dipahami sebagai kondisi penolakan atas suatu kenyataan yang menyedihkan. Mereka yang mengalami penyangkalan tidak akan menerima dan sulit untuk mengakui dan mempercayai kehilangan pasangannya. Kurangnya kestabilan emosi pada diri remaja, mengakibatkan mereka berpura-pura jika mereka sedang mengalami patah hati. Kondisi ini dapat ditangani dengan cara menerima secara perlahan-lahan kenyataan yang telah terjadi. Remaja yang putus cinta sebaiknya tidak terburu-buru untuk melupakan atau menolak perasaannya.
2. Kemarahan (Anger)
Pada tahap ini seseorang yang putus cinta sudah mempercayai apa yang terjadi dalam dirinya, dan telah membenarkan bahwa dia sedang berduka. Perasaan bisa dilampiaskan ke orang-orang sekitar ataupun ke diri sendiri perasaan negatif yang diberikan adalah berupa rasa benci, iri hati, perilaku destruktif seperti merusak barang-barang. Pada keadaan putus cinta, seseorang akan mengalami emosi yang meledak-ledak karena inddividu yang dicintai ternyata tidak sesuai dengan rencana. Pada kondisi ini cara mengikhlaskan dapat dilakukan dengan meluapkan emosi dengan sehat. Perasaan anda adalah valid, namun perilaku merugikan diri sendiri dan orang lain adalah langkah yang tidak tepat. Oleh karena itu, anda bisa mengungkapkan emosi dengan menulis jurnal, berolahraga, mendaki gunung, atau menyalurkannya ke hobi seperti melukis.
3. Tawar Menawar (Bargaining)
Pada kondisi ini seseorang yang putus cinta akan mencoba memperbaiki hubungan yang mereka alami. Kondisi lain yang mungkin terjadi adalah, mereka akan mencari cara untuk menjauhi atau mengurangi rasa sakit akibat rasa kehilangan. Ketika anda dalam situasi ini ingat bahwa apa yang bisa dijadikan pelajaran dari hubungan percintaan tersebut, sadarilah bahwa masa lalu tidak bisa diubah dan kondisi anda di masa depan tidak akan bergantung pada masa lalu.
4. Depresi (Depression)
Pada tahap ini seseorang yang mengalami putus cinta akan mengalami perasaan kesedihan yang mendalam hingga tidak tertarik pada hal apapun. Perasaan yang terjadi bisa campur aduk seperti cemas, putus asa, menghindari orang lain. Pada situasi ini seseorang pada umumnya akan menghabiskan waktu hanya dengan menangis dan berduka. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesedihan tersebut adalah terima perasaan anda namun jangan jadikan kesedihan untuk membuat anda terperangkap dalam perasaan tersebut. Selanjutnya, lakukan aktivitas yang lebih baik seperti berkumpul dan curhat kepada teman, berkonsultasi dengan keluarga, atau melakukan kegiatan yang menyenangkan.
5. Penerimaan (Acceptance)
Pada fase ini seseorang sudah mulai menerima kenyataan kehilangan. Mereka yang ada di tahap ini akan melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih baik. Penerimaan dapat dimaknai sebagai proses individu tersebut sudah ikhlas berlapang dada dan memahami bahwa kondisi tidak dapat dikembalikan seperti sedia kala. Cara yang paling ampuh untuk mencapai ke fase ini adalah fokuskan kepada kebahagiaan diri sendiri, terima semua kenyataan, dan berpikir positif untuk membangun kembali kehidupan dengan lebih baik.
Editor : Candra Mega Sari