JawaPos.com–Nama Sunan Gunung Jati begitu lekat dengan sejarah penyebaran Islam di Cirebon. Makam wali yang bernama Syarif Hidayatullah itu hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah terbesar di pesisir utara Jawa Barat.
Orang awam tentu mengenal sosok Sunan Gunung Jati, yang tersohor sebagai ulama penyebar agama Islam serta pendiri Kesultanan Cirebon. Setiap hari, terutama pada musim libur dan menjelang hari besar keagamaan, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah untuk mengunjungi kompleks pemakaman tersebut.
”Kadang, saya datang untuk mengenang para ulama yang dulu menyebarkan agama di sini,” ujar Doni, 37, seorang peziarah asal Brebes, Jawa Tengah, seperti dilansir dari Antara.
Baca Juga: Polresta Cirebon Kerahkan 1.200 Personel Amankan Mudik Lebaran
Dia mengaku sudah beberapa kali datang berziarah ke kompleks makam tersebut bersama keluarganya. Ziarah ke makam ulama menjadi cara mengingat kembali sejarah dakwah Islam di wilayah Cirebon.
Kompleks makam tersebut hampir setiap hari didatangi pengunjung dari berbagai daerah. Suasana kompleks makam yang dipenuhi pepohonan besar membuat tempat tersebut terasa lebih teduh dan menenangkan bagi para peziarah.
Di balik kemasyhuran nama Sunan Gunung Jati, terdapat sosok ulama yang jauh lebih awal membuka jalan dakwah di wilayah Cirebon. Dia adalah Syekh Datuk Kahfi, yang dalam berbagai naskah sejarah dikenal pula dengan nama Syekh Nurjati.
Baca Juga: Pemkab Kuningan Alokasikan Rp 74 Miliar untuk THR ASN
Tokoh inilah yang diyakini sebagai guru sekaligus mursyid bagi generasi awal penyebar Islam di Cirebon. Termasuk bagi keluarga yang kelak melahirkan Sunan Gunung Jati.
Makam Syekh Datuk Kahfi berada tidak jauh dari kompleks makam Sunan Gunung Jati. Keduanya hanya dipisahkan oleh jalan raya yang membelah bukit kecil di kawasan tersebut. Secara geografis, dahulu kedua kawasan tersebut sebenarnya berasal dari satu bukit yang sama.
”Hanya saja pada zaman penjajahan Belanda, kawasan ini terpotong jalan raya sehingga bukitnya terbelah,” ujar Nashrudin, salah satu jeneng atau pengurus makam Syekh Datuk Kahfi.
Menurut dia, sebelum masa kolonial kawasan itu dikenal sebagai Dukuh Jati atau Amparan Jati. Sebuah bukit kecil yang menjadi pusat aktivitas dakwah Islam pada masa awal perkembangan Cirebon.
Setelah pembangunan jalan pada masa penjajahan Belanda, bukit tersebut terbelah menjadi dua bagian yang kemudian dikenal sebagai Gunung Jati dan Gunung Sembung. Perbedaan nama itu bertahan hingga sekarang dan turut membentuk fungsi kedua kawasan tersebut. Gunung Sembung dikenal sebagai lokasi makam Sunan Gunung Jati, sekaligus tempat pemakaman keluarga keraton.
Sementara kawasan Gunung Jati, yang menjadi tempat makam Syekh Datuk Kahfi, lebih banyak digunakan sebagai area pemakaman masyarakat lokal. Meski terpisah secara fisik, sejarah keduanya tidak dapat dipisahkan.
Baca Juga: Menteri PKP: Pesanan Genteng dari UMKM Majalengka Capai Rp 3 Miliar
Ulama berpengaruh
Dalam berbagai riwayat, Syekh Datuk Kahfi juga dikenal dengan nama Syekh Nurjati atau Maulana Idhofi Mahdi. Dia dikenal sebagai tokoh yang merintis dakwah Islam di wilayah Cirebon.
Dalam sejumlah manuskrip lokal seperti Carita Purwaka Caruban Nagari dan Babad Tanah Sunda disebutkan bahwa Syekh Datuk Kahfi lahir di Semenanjung Malaka pada pertengahan abad ke-14. Dia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya adalah Syekh Datuk Ahmad, putra dari Maulana Isa, seorang tokoh agama berpengaruh pada masanya.
Maulana Isa merupakan keturunan dari Abdul Kadir Kaelani, yang memiliki garis keturunan sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Zainal Abidin. Syekh Datuk Kahfi memiliki dua saudara, salah satunya adalah Syekh Bayanullah yang memiliki pondok di Makkah dan kemudian ikut berdakwah di wilayah Cirebon.
Baca Juga: BPBD Catat 242 Rumah Rusak Diterjang Angin Puting Beliung di Cirebon
Sejak muda Syekh Datuk Kahfi dikenal gemar menuntut ilmu agama. Dia kemudian pergi ke Makkah untuk belajar sekaligus menunaikan ibadah haji.
Setelah dari Makkah, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Baghdad. Pada abad ke-14, kota tersebut merupakan pusat perkembangan pemikiran Islam. Banyak filsuf dan ulama besar bermukim di wilayah itu.
Di Baghdad, Syekh Datuk Kahfi mengajar sekaligus membangun kehidupan keluarga. Dia menikah dengan Syarifah Halimah, putri dari Ali Nurul Alim.
Baca Juga: Bank BJB Sasar Nelayan Cirebon untuk Program Literasi Keuangan
Dari pernikahan itu lahir empat orang anak, yakni Syekh Abdurrahman yang kelak dikenal sebagai Pangeran Panjunan, Syekh Abdurrahim atau Pangeran Kejaksan, Fatimah serta Syekh Datul Khafid.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Nusantara. Sekitar awal abad ke-15, Syekh Datuk Kahfi tiba di pelabuhan Muara Jati di pesisir Cirebon. Rombongan tersebut diterima penguasa pelabuhan, Ki Gedeng Tapa atau Ki Ageng Jumajan Jati.
Lahirnya pesantren tua
Setelah mendapat izin untuk bermukim, Syekh Datuk Kahfi memilih sebuah bukit kecil bernama Giri Amparan Jati sebagai tempat tinggal sekaligus pusat dakwah. Di tempat tersebut, tokoh ulama ini mulai mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.
Salah satu jejak penting dari aktivitas dakwah Syekh Datuk Kahfi, yakni ketika ulama tersebut mendirikan sebuah pesantren yang dikenal sebagai Pesambangan Jati.
Baca Juga: Dinkes Cirebon Siagakan 20 Pos Kesehatan di Jalur Mudik Lebaran
”Beliau membangun pesantren yang sampai sekarang jejaknya masih ada,” kata Nashrudin.
Dalam sejumlah catatan sejarah lokal, tempat ini disebut sebagai pesantren tertua di wilayah Cirebon dan salah satu yang paling awal di Jawa Barat setelah Pesantren Quro di Karawang. Pesantren tersebut menjadi tempat belajar banyak orang. Para santri mempelajari ajaran dasar Islam seperti tauhid, fikih, dan tasawuf.
Dari tempat di bukit itu, dakwah Islam mulai berkembang secara perlahan di kawasan pesisir Cirebon. Metode dakwah dari Syekh Datuk Kahfi dikenal bijaksana dan tidak konfrontatif. Ia lebih banyak menggunakan pendidikan, dialog, dan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Bulog Indramayu Mulai Salurkan Bantuan Pangan untuk 314 Ribu PBP
Masyarakat yang awalnya datang untuk belajar, kemudian menjadi pengikut dan menyebarkan ajaran yang mereka terima kepada orang lain. Lambat laun, Pesantren Amparan Jati pun menjadi tempat belajar bagi sejumlah tokoh penting dalam sejarah Cirebon.
Salah satu murid Syekh Datuk Kahfi yang paling tersohor di Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Dikisahkan, kalau tokoh ini datang ke Amparan Jati bersama adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang, untuk mempelajari Islam.
Dari garis keturunan Nyi Mas Ratu Rarasantang inilah kemudian lahir Syarif Hidayatullah, yang kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Setelah beberapa tahun menuntut ilmu, Pangeran Walangsungsang membuka perkampungan baru di kawasan pesisir yang kemudian berkembang menjadi Caruban Larang, cikal bakal kota Cirebon.
Baca Juga: KAI Cirebon Catat 41 Ribu Tiket Angkutan Lebaran 2026 Sudah Terjual
Sementara Ratu Rarasantang, melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah dan menikah dengan seorang bangsawan. Dari pernikahan tersebut, lahir seorang putra bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Hubungan sejarah ini, membuat Syekh Datuk Kahfi sering disebut sebagai guru spiritual bagi generasi penyebar ajaran Islam di wilayah Cirebon.
Jejak yang dikenang
Nashrudin menyampaikan dakwah yang dilakukan Syekh Datuk Kahfi berlangsung dalam periode penting, kala wilayah pesisir utara Jawa mulai berkembang sebagai jalur perdagangan.
Pelabuhan Muara Jati menjadi titik pertemuan berbagai bangsa, mulai dari pedagang Nusantara, Arab, hingga Tiongkok. Kondisi tersebut memudahkan penyebaran berbagai gagasan, termasuk ajaran Islam.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Jamin Pasokan BBM di Cirebon Aman Jelang Lebaran
Pada masanya, tokoh tersebut pun memiliki keterkaitan dengan pengelolaan aktivitas di Pelabuhan Muara Jati. Artinya, Syekh Datuk Kahfi merupakan seorang ulama yang menguasai banyak bidang ilmu.
Selain keagamaan, tokoh ini memahami berbagai disiplin pengetahuan lain, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan dan administrasi.
”Beliau menjadi salah satu syahbandar yang menguasai pelabuhan. Dia tersohor, sebagai administrator ulung dalam pemerintahan,” tutur dia.
Baca Juga: Pemkot Cirebon Pastikan Terminal Harjamukti Siap Layani Mudik Lebaran
Bagi masyarakat sekitar, sosok ulama ini dapat dijadikan sebagai tokoh yang dihormati sekaligus sebagai teladan moral. Nashrudin menekankan kisah hidup Syekh Datuk Kahfi mengajarkan nilai ketekunan, pengabdian, serta rasa syukur atas kehidupan yang dijalani.
Di balik aktivitas ziarah di Gunung Jati, terdapat sistem pengelolaan yang masih mempertahankan tradisi lama. Para penjaga makam atau juru kunci tidak bekerja sebagai pegawai formal yang menerima gaji tetap. Tugas merawat kawasan makam dilakukan sebagai bentuk pengabdian yang diwariskan secara turun-temurun.
Di kompleks Gunung Jati, terdapat sekitar 15 orang penjaga yang berasal dari satu keluarga. Sementara Gunung Sembung jumlahnya jauh lebih banyak, mencapai lebih dari 100 orang yang dibagi dalam beberapa kelompok kerja. Tradisi tersebut menunjukkan kawasan makam ini berfungsi sebagai situs sejarah, serta menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.
Baca Juga: Polres Cirebon Kota Selidiki Laporan Dugaan Pemerasan Proyek Perumahan
Bupati Cirebon Imron menilai keberadaan makam Sunan Gunung Jati memiliki pengaruh besar terhadap wajah Cirebon, sebagai daerah yang dikenal kuat dengan tradisi religiusnya. Pemerintah Kabupaten Cirebon pun melihat wisata religi sebagai salah satu potensi utama daerah. Sebab, masyarakat sekitar merasakan pergerakan ekonomi dari kunjungan para peziarah.
Pada 2025, pemerintah daerah menargetkan kunjungan wisata di Kabupaten Cirebon sekitar 1,2 juta orang. Target tersebut akhirnya berhasil dilampaui. Dari berbagai destinasi yang ada, kawasan makam di Gunung Jati menjadi salah satu lokasi dengan jumlah kunjungan paling tinggi.
Arus ziarah yang terus berlangsung sampai hari ini, memperlihatkan bahwa kisah historis dari tokoh-tokoh penyebar Islam di Cirebon masih terawat dalam ingatan masyarakat, termasuk kiprah Syekh Datuk Kahfi. Bagi warga yang memahami sejarah Cirebon, sosok ulama ini dikenang sebagai tokoh penting yang membuka jalan bagi berkembangnya Islam di tanah pesisir tersebut.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah