JawaPos.com–Pengelola Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi tabuh bedug atau dlugdag menyambut awal Bulan Suci Ramadhan. Pemerintah sudah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada 19 Februari 2026, usai diputuskan melalui Sidang Isbat.
Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Kiai Jumhur mengatakan, tradisi tersebut telah dilaksanakan secara turun-temurun sebagai bentuk pemberitahuan datangnya Ramadhan.
”Tradisi ini sudah kami laksanakan turun-temurun untuk memberitahukan bahwa sudah masuk awal Ramadhan,” kata Kiai Jumhur seperti dilansir dari Antara.
Dia menjelaskan dlugdag menjadi bagian dari rangkaian tradisi keraton yang dilaksanakan setiap menyambut awal Ramadhan, Idul Fitri, serta pada saat membangunkan sahur. Bunyi bedug yang ditabuh menjadi penanda bagi masyarakat bahwa Ramadhan telah tiba sehingga dapat mempersiapkan diri menjalankan ibadah puasa.
Bedug yang digunakan dalam tradisi tersebut, lanjut dia, merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati yang hingga kini masih dirawat pihak keraton. Tradisi menabuh bedug juga dilakukan Sunan Gunung Jati, saat menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
Pada masa itu, kata dia, bedug berfungsi sebagai sarana komunikasi sekaligus penanda waktu bagi masyarakat dalam menerima informasi keagamaan.
”Kami merawat tradisi ini agar terus terjaga, dan ini juga menjadi salah satu tanda bahwa besok sudah masuk awal Ramadhan,” ujar Kiai Jumhur.
Dia menyampaikan, prosesi ini dilaksanakan secara bertahap, untuk menghasilkan ragam bunyi tabuhan. Kemudian, penabuhan dilanjutkan para abdi dalem secara bergantian selama kurang lebih satu jam.
Dia menambahkan, bedug yang ditabuh dalam tradisi tersebut adalah Bedug Samogiri, yang disebut sama dengan yang digunakan Sunan Gunung Jati pada masanya.
”Untuk menandakan Ramadhan suaranya lebih keras dan ditabuh secara bergantian,” tutur Kiai Jumhur.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon Agus Sukmanjaya mengatakan, pihaknya mendukung pelestarian tradisi di keraton sebagai bagian dari warisan budaya yang menjadi identitas daerah. Tradisi tersebut memiliki nilai religius, sejarah dan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya agar tetap dikenal generasi mendatang.
”Pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan pelestarian tradisi dan budaya di Kota Cirebon,” ungkap Agus Sukmanjaya.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah