JawaPos.com - Kota Cirebon yang kaya akan budaya dan sejarah, tak hanya terkenal dengan batik Trusmi yang memikat dunia. Tapi juga ada sebuah desa bernama Sitiwinangun yang dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah berkualitas tinggi yang diakui kancah internasional.
Berlokasi strategis di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Desa Sitiwinangun sangat mudah diakses oleh para wisatawan yang ingin menyaksikan langsung proses pembuatan gerabah serta mendalami kekayaan budaya Indonesia.
Tradisi pembuatan gerabah di Desa Sitiwinangun telah berlangsung sejak abad ke-15, menjadikannya salah satu warisan budaya yang sangat berharga. Sejarah mencatat bahwa Pangeran Panjunan, saat menyebarkan agama Islam di desa ini, turut memperkenalkan keterampilan mengolah tanah liat. Keterampilan ini kemudian diwariskan secara turun-temurun oleh Pangeran Ki Jagabaya, hingga akhirnya menjadi ciri khas masyarakat Sitiwinangun.
Nama "Sitiwinangun" sendiri memiliki makna yang sangat mendalam, yakni "tanah yang dibangun atau dibentuk". Nama ini begitu relevan dengan keterampilan masyarakat desa dalam mengolah tanah liat menjadi berbagai bentuk karya seni yang mengagumkan.
Uniknya, gerabah Sitiwinangun merupakan perpaduan harmonis dari berbagai pengaruh budaya, seperti Islam, Cina, dan Arab. Terdapat pula tradisi unik di mana para pengrajin akan mengunjungi makam Ki Jagabaya sebelum memulai proses pembuatan gerabah, sebagai bentuk penghormatan dan memohon keberkahan.
Dulu kala, gerabah Sitiwinangun bahkan menjadi mas kawin yang sangat berharga, baik bagi warga desa maupun dari luar desa. Hal ini menunjukkan kualitas tinggi dan nilai seni yang terkandung dalam setiap karya.
Proses pembuatan gerabah bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keterampilan khusus dalam mengolah tanah liat, sehingga setiap karya yang dihasilkan memiliki karakteristik yang unik.
Desa Sitiwinangun patut diapresiasi atas upaya pelestarian warisan budaya yang begitu kaya. Keterampilan mengolah tanah liat yang dimiliki masyarakat desa perlu terus dilestarikan agar gerabah Sitiwinangun semakin dikenal dunia dan menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Editor : Candra Mega Sari