JawaPos.com - Suasana penuh haru menyelimuti Allianz Arena saat Thomas Muller menjalani laga kandang terakhirnya bersama FC Bayern Munchen pada Sabtu, 10 Mei 2025. Malam itu bukan hanya tentang kemenangan dan trofi Bundesliga ke-34, tetapi juga tentang mengucapkan selamat tinggal kepada sosok yang telah menjadi ikon klub selama 25 tahun.
Tepat pukul 20.51 waktu setempat, langit Frottmaning berubah gelap ketika Muller memanjat pagar tribun dan mengangkat trofi Bundesliga di hadapan para pendukung fanatik di Sudkurve.
Teriakan "Muller, Muller" menggema ribuan kali, menggetarkan atmosfer stadion seperti gempa kecil yang menyentuh jiwa setiap penonton.
Muller menjalani laga ke-355 sekaligus terakhirnya di kandang Bayern dengan penuh semangat. Ia berlari, mengumpan, dan mencoba menghapus emosi lewat permainannya.
"Disambut trofi terakhir di pertandingan kandang terakhir sangat menggugah hati, bahkan bagi saya yang sudah lama di sini,” ujarnya dilansir dari fcbayern.com.
Sebelum laga dimulai, momen perpisahan resmi digelar. Presiden klub Herbert Hainer bersama direksi seperti Jan-Christian Dreesen dan Max Eberl memberikan cendera mata serta pelukan hangat untuk Müller. Bahkan para penggemar yang paling keras pun tak kuasa menahan haru di detik-detik itu.
Meski penuh emosi, Muller tetap menunjukkan profesionalismenya. Ia meminta rekan-rekan segera memulai pertandingan, seperti melepaskan tekanan dari dalam dirinya.
"Ayo main sekarang," katanya sambil bersiap memimpin tim seperti biasanya.
Suporter di Südkurve tak henti memberikan penghormatan, membentangkan spanduk bertuliskan "Segalanya untuk warna kita selama 25 tahun! Thomas Muller".
Muller sempat mendapat peluang emas pada menit ke-56, namun gagal mencetak gol – mungkin karena takdir ingin perpisahannya sederhana namun berkesan.
Pada menit ke-83, nomor 25 ditampilkan di papan pergantian pemain. Muller berhenti sejenak, menunduk, dan untuk pertama kalinya malam itu menunjukkan emosi yang tak terbendung. Perisai ketegaran yang ia pakai seolah runtuh beberapa detik.
Namun Muller cepat bangkit, menatap ke arah tribun tempat orang tuanya, Klaudia dan Gerhard, duduk. Keduanya adalah sosok yang dahulu rutin mengantarnya ke Sabener Strabe saat ia masih anak-anak dari kampung halamannya, Pähl.
Rekan-rekannya, termasuk Harry Kane, Joshua Kimmich, hingga sang kapten Manuel Neuer, memberi penghormatan dengan pelukan. Sebuah guard of honour dibentuk, dan Müller melewatinya dengan senyuman, tepuk tangan, dan lambaian yang penuh makna.
Usai pertandingan, Muller menjadi orang pertama yang mengangkat trofi Bundesliga. Neuer menariknya ke depan panggung, memberinya momen puncak di tengah riuh sorak-sorai. Setelah itu, ia kembali ke Südkurve, tempat cintanya pada klub bermula dan berakhir.
Saat berbicara kepada 75.000 suporter, Muller mengungkapkan rasa syukurnya atas momen-momen luar biasa selama kariernya.
"Saya mencintai kalian semua. Jaga diri kalian. Selamat tinggal," katanya mengakhiri pidato penuh cinta itu.
Perpisahan ini tidak ditutup dengan air mata, melainkan tawa, bir, dan anak-anak para pemain yang bermain bola di lapangan. Muller, seperti biasa, ada di tengah-tengah mereka, tersenyum seolah ia tak pernah akan pergi.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah