Pesantren Diminta Fokus Regenerasi Ulama, Kunci Menuju Indonesia Emas 2045
Senin, 19 Mei 2025 | 18:22 WIB

Seminar itu mengangkat tema "Eksistensi Pesantren dalam Menyiapkan Indonesia Emas 2045," dan menghadirkan para narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan Islam. Di antaranya adalah Direktur PD Pontren Kementerian Agama Basnang Said, Guru Besar Sejarah Pendidikan Islam UIN Sumatera Utara Hasan As'ary, serta Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam IAIN Takengon Zulkarnain.
Pesantren Maqam Mahmuda sendiri didirikan oleh almarhum Dr. H Mahmud Ibrahim dan telah meluluskan berbagai jenjang pendidikan diniyah formal, mulai dari tingkat Wustha hingga Ulya. Dalam perjalanannya selama satu dekade, pesantren ini telah menjadi pusat pendidikan dan pembinaan karakter di wilayah Aceh Tengah.
Baca Juga: Satops Armuzna Imbau Petugas Haji Jaga Semangat, Disiplin, dan Kesehatan Jelang Puncak Ibadah Haji
Selain seminar, rangkaian acara milad ke-10 juga meliputi zikir dan doa bersama, wisuda angkatan ke-3, pagelaran seni santri, hingga malam apresiasi bagi peserta didik berprestasi. Acara ini dihadiri santri, wali santri, para kiyai, serta sejumlah pejabat daerah dan undangan khusus.
Bupati Aceh Tengah, Haily Yoga, dalam sambutannya mengapresiasi peran aktif pesantren dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia berharap agar pesantren dapat terus mencetak lulusan yang bermanfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam memakmurkan masjid dan memperkuat nilai-nilai keislaman.
Hasan As'ary menekankan bahwa regenerasi ulama harus tetap menjadi prioritas utama pesantren. Menurutnya, masyarakat sangat membutuhkan kehadiran ulama yang tidak hanya alim dalam ilmu agama, tapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
"Pendidikan akhlak harus berjalan seiring dengan penguasaan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ulama tidak hanya dituntut cerdas secara spiritual, tetapi juga mampu memimpin perubahan sosial," ujarnya dalam seminar, dilansir dari kemenag.go.id.
Sementara itu, Zulkarnain mengingatkan pentingnya tata kelola kelembagaan pesantren yang sesuai dengan regulasi. Setelah Undang-Undang Pesantren disahkan, transformasi kelembagaan menjadi hal mutlak agar pesantren bisa setara dalam sistem pendidikan nasional.
Ia juga menyoroti urgensi pembentukan Dewan Masyayikh sebagai penjamin mutu pendidikan pesantren. Proses ini, menurutnya, perlu melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan pihak-pihak terkait lainnya sesuai aturan yang berlaku.
Direktur PD Pontren Kemenag, Basnang Said, menambahkan bahwa pesantren kini telah menjadi pilar penting dalam mencetak sumber daya manusia Indonesia Emas 2045. Ia menyebut bahwa keberadaan pendidikan Diniyah Formal dan Ma'had Aly menjadi bagian penting dalam arsitektur pendidikan nasional.
"Atas nama Menteri Agama, kami memberikan apresiasi atas dedikasi Pesantren Maqam Mahmuda dalam mendidik anak bangsa dan memajukan pendidikan Islam," ucapnya dalam sesi sambutan.
Di akhir seminar, pimpinan pesantren, Dr. Abdiasyah Linge, menyatakan bahwa hasil-hasil diskusi ini akan segera ditindaklanjuti. Ia menyebut bahwa dokumen dan rencana aksi yang lahir dari seminar ini akan menjadi pijakan dalam memperkuat masa depan pesantren.
Dr. Ihsan Harun, yang turut mendampingi, menegaskan bahwa pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat peradaban Islam yang relevan dengan tantangan zaman. "Kami akan terus berinovasi, namun tetap menjaga akar tradisi dan nilai luhur yang telah diwariskan," pungkasnya.



