Dinsos Sebut Wapres Gibran Beri Perhatian Serius pada Sekolah Rakyat di Cirebon

JawaPos.com–Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cirebon menyebut Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka memberikan perhatian serius terhadap aktivitas pembelajaran di Sekolah Rakyat Cirebon saat meninjau kondisi di fasilitas tersebut.
Kepala Dinsos Kota Cirebon Santi Rahayu mengatakan, kunjungan Wapres Gibran menjadi bukti nyata dukungan pemerintah pusat terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
”Bapak Wapres tadi menanyakan langsung proses belajar-mengajar dan kondisi fasilitas yang ada di Sekolah Rakyat. Ini menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan masyarakat,” kata Santi Rahayu seperti dilansir dari Antara.
Dalam kesempatan itu, lanjut dia, Wapres Gibran meninjau fasilitas sekolah dan berdialog dengan kepala sekolah terkait kebutuhan pembelajaran yang masih perlu dipenuhi.
”Wapres menanyakan kebutuhan yang belum ada, seperti komputer dan seragam pramuka. Kepala sekolah menjelaskan bahwa pengadaan keduanya sudah diproses,” terang Santi Rahayu.
Menurut dia, perhatian Wapres terhadap fasilitas dan aktivitas belajar para siswa menjadi dorongan bagi Pemkot Cirebon untuk terus memperkuat kolaborasi antar-instansi demi keberlanjutan program tersebut.
”Bagi kami, perhatian Wapres Gibran ini menjadi motivasi agar Sekolah Rakyat terus berkembang dan benar-benar menjadi sarana pemutus rantai kemiskinan,” ujar Santi Rahayu.
Dia menuturkan Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pusat yang didukung penuh oleh pemerintah daerah melalui kerja sama lintas instansi. Dinsos bertugas merekrut siswa dari keluarga prasejahtera, Dinas Pendidikan (Disdik) menangani tenaga pendidik dan kurikulum, sedangkan Dinas PUPR bertanggung jawab atas sarana dan prasarana sekolah.
”Kolaborasi ini menjadi kunci agar anak-anak dari Desil 1 dan 2, atau keluarga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, bisa memperoleh pendidikan yang layak,” tandas Santi Rahayu.
Dia menuturkan Sekolah Rakyat di Kota Cirebon memiliki empat rombongan belajar (rombel) yang terdiri dari dua tingkat dasar (SD) dan dua jenjang menengah (SMA). Namun, karena beberapa siswa mengundurkan diri, kini tersisa tiga rombel aktif dengan total sekitar 75 anak yang seluruhnya tinggal di asrama.
Seluruh murid, lanjut dia, kini tinggal dalam asrama agar mereka fokus belajar dan mendapatkan lingkungan pembinaan yang lebih baik.
”Awalnya ada 100 siswa, tapi ada anak mengundurkan diri. Saat ini masih berjalan tiga rombel aktif,” tutur Santi Rahayu.






