Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Satu Data Kesehatan, Tulang Punggung Layanan Medis Jemaah Haji 2025

Fawwaz Ralli Perdana • Kamis, 15 Mei 2025 | 11:26 WIB

Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo menjelaskan bagaimana Pemerintah memantau kesehatan para jamaah haji secara real time (Dok. kemenag.go.id)
Kepala Pusat Kesehatan Haji Liliek Marhaendro Susilo menjelaskan bagaimana Pemerintah memantau kesehatan para jamaah haji secara real time (Dok. kemenag.go.id)
JawaPos.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji. Tahun ini, sistem satu data kesehatan dijadikan andalan utama untuk memantau kondisi kesehatan jemaah secara menyeluruh selama operasional haji 1446 H/2025 M.

Sistem ini diklaim mampu memberikan informasi kesehatan jemaah secara real-time, mulai dari embarkasi di Indonesia hingga fase ibadah di Arab Saudi. Langkah ini menjadi bagian penting dalam transformasi layanan kesehatan haji yang lebih adaptif, responsif, dan berbasis data.
 
"Dengan satu data kesehatan, kami bisa memantau kondisi jemaah secara real-time, sejak dari embarkasi hingga di Arab Saudi," ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, dalam konferensi pers Kabar Haji untuk Indonesia, Selasa (14/5/2025).

Baca Juga: 41 Jemaah Haji Khusus Tiba di Madinah, Pemerintah Tegaskan Pengawasan Layanan PIHK
 
Data yang dihimpun mencakup rekam medis, riwayat komorbid, hasil pemeriksaan kesehatan, hingga catatan tindakan medis selama perjalanan. Informasi ini terhubung langsung antara petugas di kloter, sektor, hingga Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
 
Dengan akses data yang akurat, petugas kesehatan dapat lebih cepat menentukan langkah intervensi terhadap jemaah yang membutuhkan perhatian khusus. “Kami bisa menentukan siapa yang butuh pemantauan ketat, atau harus segera dirujuk,” jelas Liliek.
 
Selain itu, sistem satu data juga mendukung pelaksanaan edukasi kesehatan secara personal. Pendekatan ini disesuaikan dengan kondisi dan risiko kesehatan masing-masing jemaah, termasuk lansia dan yang memiliki penyakit penyerta.
 
"Dengan data ini, pendekatan kami bisa lebih efektif. Tidak semua jemaah sama, dan ini penting untuk menjaga keselamatan mereka," tambahnya. Langkah ini juga memperkuat kesiapan petugas dalam menghadapi dinamika ibadah haji.
 
Meski saat ini kondisi kesehatan jemaah Indonesia terpantau stabil, Liliek menegaskan bahwa fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) akan menjadi tantangan besar secara fisik dan mental bagi jemaah.
 
Ia mengimbau jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, menghindari paparan panas, serta patuh terhadap arahan tim kesehatan. "Penting untuk tidak memaksakan diri dan mendengarkan instruksi medis," ujarnya.
 
Kesiapsiagaan juga ditunjukkan melalui layanan kesehatan 24 jam, mulai dari tim kesehatan kloter, sektor, hingga KKHI. Semua petugas telah dibekali data risiko yang komprehensif agar dapat bertindak cepat dan tepat.
 
Sementara itu, dalam upaya pencegahan penyakit menular, Kemenkes memastikan vaksinasi berjalan sesuai standar. Sebanyak 203.410 vaksin polio dan 211.751 vaksin meningitis telah disediakan bagi seluruh jemaah haji reguler.
 
Dilansir dari kemenag.go.id, vaksin polio tetap menjadi syarat wajib, sebagaimana ditegaskan langsung oleh Menteri Kesehatan Arab Saudi saat kunjungan ke Indonesia. Hal ini penting untuk menjaga kesehatan jemaah dan mencegah penyebaran penyakit.
 
Dengan dukungan teknologi data dan kesiapsiagaan petugas, pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, sehat, dan khusyuk. "Satu data bukan sekadar sistem. Ini adalah ikhtiar negara untuk menjaga keselamatan setiap jemaah," tutup Liliek.
 
Baca Juga: Dari Pengantar Jemaah hingga Jadi Wamenag: Kisah Ketulusan Romo Syafi'i dalam Melayani Haji
Editor : Candra Mega Sari
kesehatan sistem satu data layanan medis haji