Jawapos.com - Saptonan adalah tradisi unik yang telah ada sejak lama di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Saptonan lebih dari sekadar perlombaan berkuda biasa, Saptonan merupakan perpaduan antara ketangkasan, seni, dan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Asal-usul Saptonan dapat ditelusuri hingga zaman pemerintahan Adipati Ewangga di Kabupaten Kuningan. Tradisi ini awalnya merupakan ajang untuk menguji ketangkasan para prajurit dalam berkuda dan memanah. Seiring berjalannya waktu, Saptonan mengalami perkembangan dan menjadi sebuah perayaan tahunan yang dinantikan oleh masyarakat Kuningan.
Dilansir dari humaskuningan.blogspot.com, tradisi ini melibatkan lomba menunggang kuda sambil melemparkan tombak ke dalam lubang yang digantung di atas ember tanpa menjatuhkan air yang ada di dalam ember. Acara ini biasanya diadakan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Kuningan.
Peserta lomba terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk kepala desa dan camat. Mereka berkompetisi dengan kuda-kuda yang dikenal gesit dan lincah, sehingga menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat.
Dilansir dari kuningankab.go.id, tradisi balap kuda Saptonan ini merupakan perayaan budaya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal. Setiap rangkaian acara dirancang untuk membawa penonton kembali ke masa kerajaan, dengan suasana yang mirip kehidupan bangsawan dahulu. Dimulai dengan parade keprajuritan dan atraksi seni dari berbagai kademangan, acara ini juga menampilkan seba atau persembahan dari kademangan ke bupati (yang dianggap seperti raja dalam acara ini).
Pembukaan acara diawali dengan Tari Persembahan dan Tari Panahan, dilanjutkan dengan doa dan pembacaan sinopsis Saptonan. Sinopsis Saptonan mengisahkan tentang Kerajaan Kajene (atau Kuningan) dan memperkenalkan tokoh-tokoh penting kerajaan seperti Adipati, Patih, dan Tumenggung.
Selain itu, Lima Kawadanan beserta pasukannya juga tampil secara berurutan untuk mempersembahkan atraksi seni serta seba khas kepada bupati atau raja, dilanjutkan dengan laporan resmi dari pupuhu demang (pemimpin kademangan) yang dijawab langsung oleh bupati.
Acara puncak melibatkan penyerahan seba dari masing-masing kawedanan kepada bupati serta penyerahan simbolis tombak dan panah kepada peserta sebagai simbol penghormatan dan semangat keprajuritan. Acara diakhiri dengan kejuaraan ketangkasan berkuda serta panahan tradisional yang melibatkan Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah), yang memperkuat suasana kebersamaan dan penghormatan pada tradisi.
Saptonan memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Kuningan. Selain sebagai ajang adu ketangkasan, tradisi ini juga melambangkan semangat ksatria, kepahlawanan, dan persatuan.
Acara ini pernah mendapat pengakuan di tingkat nasional, pernah meraih penghargaan sebagai penampilan terunik pada Festival Olahraga Tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa Saptonan memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata unggulan. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah