Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

6 Tanda Kesehatan Mental Sedang Buruk yang Sering Diabaikan

Mohammad Maulana Iqbal • Rabu, 15 Juli 2026 | 15:09 WIB
Ilustrasi orang yang terbiasa dengan kesehatan mental yang buruk (Magnific)
Ilustrasi orang yang terbiasa dengan kesehatan mental yang buruk (Magnific)

 

JawaPos.com - Banyak orang tidak menyadari bahwa kondisi kesehatan mental mereka sudah tidak baik-baik saja karena sudah terlalu terbiasa dengan perasaan yang sebenarnya tidak normal.

Secara psikologi, terbiasa dengan rasa tidak nyaman yang kronis membuat seseorang sulit mengenali kapan sebenarnya mereka butuh pertolongan.

Tanda-tanda ini sering kali muncul secara perlahan sehingga tidak langsung disadari oleh orang yang mengalaminya sendiri.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (15/6), berikut enam tanda yang menunjukkan bahwa kondisimu mungkin tidak sebaik yang kamu kira selama ini.

Baca Juga: 10 Hal Kecil yang Bikin Introvert Bahagia Menurut Psikologi, Bukan Cuma Menyendiri!

1. Kamu Selalu Merasa Kelelahan Tanpa Alasan Jelas

Salah satu penyebab terbesar kelelahan kronis adalah kurangnya tidur yang benar-benar berkualitas dan memulihkan tubuh secara menyeluruh.

Bahkan ketika berhasil tidur, tubuh mungkin tidak masuk ke siklus REM yang cukup untuk benar-benar memulihkan energi yang sudah terkuras.

Pikiran yang terus berlari kencang membuat proses tertidur menjadi sangat sulit dan membuat tidur yang ada pun tidak terasa menyegarkan.

Mimpi buruk atau terus-menerus terjaga di tengah malam juga bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu diperhatikan.

Kelelahan yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat adalah sinyal kuat bahwa tubuh dan pikiran sedang menanggung beban yang melebihi kapasitasnya.

2. Kamu Terus-menerus Mencemaskan Hal-Hal Terburuk

Ketika pikiran terus melompat ke skenario terburuk, kamu masuk ke pola kebiasaan yang mengasumsikan bahaya bahkan ketika situasinya sebenarnya aman.

Pola ini menciptakan siklus yang sangat melelahkan karena kamu menjalani hari dalam kondisi waspada penuh yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Setiap malam terasa berat dan setiap pagi disambut dengan rasa cemas yang sudah hadir bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Overthinking yang terus-menerus ini bukan hanya melelahkan secara mental, melainkan juga menguras energi fisik yang seharusnya tersedia untuk hal lain.

Menyadari bahwa pola pikir ini sudah menjadi kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai menanganinya dengan cara yang lebih sehat.

3. Kamu Merasa Mati Rasa dan Hampa

Tidak ada yang secara khusus salah hari ini, namun kamu tetap merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan dan tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Rasa mati rasa ini bisa disebabkan oleh kesedihan yang belum terselesaikan, trauma, stres kronis, atau rutinitas yang sudah terlalu lama tidak memberikan makna.

Kondisi ini berbeda dari sekadar hari yang buruk karena terasa seperti lapisan yang terus menahan kamu dari merasakan sesuatu yang lebih dalam.

Salah satu cara yang bisa membantu adalah mulai melatih rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari.

Riset membuktikan bahwa praktik syukur secara rutin terbukti mengurangi gejala depresi dan bahkan memberikan manfaat bagi kesehatan jantung secara fisik.

Baca Juga: 9 Frasa Elegan untuk Mengakhiri Percakapan ala Orang Berkelas Menurut Psikologi 

4. Kamu Mudah Tersinggung dan Cepat Marah

Ketika kondisi emosional tidak baik, ambang toleransi terhadap gangguan kecil menjadi sangat rendah dan hal-hal yang dulunya tidak mengganggumu kini terasa menyakitkan.

Kemarahan atau iritasi yang muncul lebih sering dari biasanya sering merupakan ekspresi dari emosi lain yang lebih dalam dan belum berhasil diproses.

Kondisi ini bisa berdampak pada hubungan dan membuat orang di sekitarmu bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi tanpa mereka sadari.

Mengenali iritabilitas yang tidak biasa sebagai tanda peringatan dari kondisi emosional yang sedang tidak sehat sangat penting untuk segera ditangani.

Mengambil jeda, berbicara dengan seseorang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional adalah langkah nyata yang bisa diambil untuk mulai pulih.

5. Kamu Merasa Bukan Dirimu Sendiri

Pergeseran dalam cara merasa atau bersikap sering terjadi setelah perubahan besar dalam hidup, bahkan ketika perubahan itu sendiri bersifat positif.

Memproses hal baru bisa terasa mengacaukan identitas karena kamu harus menerima babak baru kehidupan yang belum sepenuhnya kamu kenali.

Perasaan kehilangan diri ini bisa menjadi hasil langsung dari burnout yang terlalu lama dibiarkan tanpa mendapat perhatian dan pemulihan yang cukup.

Memprioritaskan perawatan diri dan kembali melakukan hal-hal yang secara mental dan fisik membuat kamu merasa baik adalah cara kembali mengenal diri sendiri.

Ingat bahwa versi dirimu berikutnya tidak harus identik dengan yang sebelumnya karena pertumbuhan pribadi sering kali membutuhkan perubahan yang terasa asing di awal.

6. Hal-Hal yang Dulu Kamu Cintai Kini Terasa Melelahkan

Hobi dan aktivitas yang dulu memberikan kegembiraan kini terasa seperti kewajiban yang justru menguras energi daripada mengisinya kembali.

Minat yang menghilang terhadap sesuatu yang dulunya bermakna adalah salah satu sinyal paling jelas bahwa kondisi mental sedang membutuhkan perhatian serius.

Siklus ini sulit diputus karena justru di saat kondisi menurun itulah motivasi untuk melakukan apa pun terasa paling sulit untuk ditemukan.

Cara terbaik untuk menghadapinya adalah mulai dengan langkah-langkah kecil yang terencana, seperti membuat janji untuk melakukan sesuatu bersama orang lain.

Memaksakan diri dengan lembut untuk kembali terlibat dalam aktivitas yang pernah kamu cintai bisa mengingatkan kamu mengapa hal itu dulu terasa begitu berarti.

Baca Juga: Mengapa Orang Baik Justru Punya Sedikit Teman saat Dewasa? Ini 7 Alasan Psikologisnya

Editor : Candra Mega Sari
Tidak baik kesehatan mental psikologi