JawaPos.com - Di era digital ini, media sosial sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Setiap hari, kita melihat berbagai komentar, dari yang positif sampai yang negatif, silih berganti memenuhi linimasa.
Tapi, seringkali kita menemukan komentar-komentar jahat yang bukan hanya menyakitkan, tapi juga bisa merusak mental. Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa orang bisa tega melontarkan kata-kata kejam di dunia maya?
Melansir dari Havok Journal, ada dua alasan psikologis utama di balik fenomena ini yang perlu kita pahami.
1. Butuh Validasi dan Rendah Diri
Salah satu pemicu utama komentar jahat adalah kurangnya percaya diri, rasa iri, dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Individu yang merasa tidak aman, terutama mereka yang mungkin sering mengalami bullying di kehidupan nyata, cenderung mencari cara untuk merasa lebih baik dengan menjatuhkan orang lain.
Ketika mereka melontarkan komentar jahat, mereka sebenarnya sedang mencari validasi. Mereka tahu bahwa tindakan mereka akan memancing perhatian, baik dari pihak yang membela korban maupun mereka yang setuju dengan ujaran kebencian. Semakin banyak interaksi yang mereka dapatkan, semakin besar rasa "senang" yang mereka rasakan. Ironisnya, orang-orang seperti ini umumnya sulit berempati dan memahami perasaan orang lain.
2. Deindividuasi
Fenomena psikologis lain yang berperan adalah deindividuasi. Ini adalah kondisi di mana seseorang kehilangan identitas dirinya dalam suatu kelompok atau situasi tertentu. Di media sosial, anonimitas menjadi sarana sempurna bagi individu untuk melepaskan diri dari identitas nyata mereka. Ketika tidak ada interaksi tatap muka, rasa tanggung jawab berkurang drastis, bahkan empati terhadap orang lain bisa menghilang.
Komunikasi online yang minim konteks membuat orang lain terlihat seperti "objek" dan bukan manusia seutuhnya. Hal ini memudahkan individu untuk menyebarkan ujaran kebencian tanpa mempertimbangkan dampak emosional yang ditimbulkan. Identitas anonim seolah menjadi tameng yang menghilangkan rasa bersalah. Penting untuk diingat bahwa, secara historis, fase deindividuasi seringkali menjadi langkah awal menuju tindakan yang lebih ekstrem, bahkan genosida.
Dampak Jangka Panjang dan Pentingnya Kesehatan Mental
Dari kedua alasan di atas, jelas terlihat bahwa rasa tidak percaya diri dapat mendorong seseorang untuk memiliki sikap mendominasi dan menyebarkan ujaran kebencian. Mereka melampiaskan ketidaknyamanan diri dengan menjatuhkan orang lain, terutama secara daring dan dengan identitas anonim.
Namun, perlu diingat bahwa kebiasaan ini tidak baik untuk kesehatan mental jangka panjang. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sering menyebarkan ujaran kebencian, terutama menggunakan akun anonim, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah penting untuk memahami akar masalah dan menjaga kesehatan mental.
Baca Juga: Jangan Langsung Judge! Ini 11 Alasan Psikologis Kenapa Seseorang Suka Menyela Pembicaraan