Anak-anak memang dikenal tangguh, ekspresif, dan sering kali tampak mandiri. Namun, anak yang paling percaya diri sekalipun bisa mengalami masa-masa ketika mereka sangat membutuhkan dukungan lebih dari orang tua. Yang menjadi tantangan adalah, mereka tidak selalu mampu atau mau mengungkapkan kebutuhannya secara langsung.
Sering kali, kebutuhan emosional itu muncul dalam bentuk tanda-tanda yang halus bisa berupa kata-kata kasar, nilai pelajaran yang jeblok, atau perubahan sikap yang mendadak. Untuk mengenali sinyal-sinyal kecil ini, orang tua tidak perlu mengubah seluruh gaya pengasuhan, cukup dengan meningkatkan kepekaan dan menunjukkan kasih sayang yang tulus.
Dilansir dari laman Your Tango pada Kamis (10/04), berikut merupakan tanda bahwa anak mungkin sedang membutuhkan lebih banyak dukungan dari orang tua.
1. Anak Sering Mengucapkan Kata-Kata Kasar
Hal ini bisa menjadi sinyal adanya tekanan emosional, keinginan menarik perhatian, atau sekadar meniru perilaku orang lain di sekitarnya. Meskipun belum ada penelitian yang secara mutlak menyatakan bahwa anak yang sering berkata kasar pasti sedang membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya. Reaksi orang tua sebaiknya bukan kemarahan, tetapi pendekatan yang penuh pengertian dan bimbingan yang tepat.
2. Mereka Tidak Menyelesaikan Tugas Rumah meski Sudah Diminta Berkali-Kali
Ketika anak diminta mengerjakan tugas rumah tangga tapi tidak juga dilakukan, bahkan setelah diingatkan beberapa kali, lalu akhirnya dikerjakan dengan asal-asalan, orang tua sering kali memilih menyelesaikannya sendiri. Padahal hal ini justru memperkuat kebiasaan buruk tersebut.
Bisa jadi anak merasa tidak memiliki keterlibatan emosional atau tanggung jawab terhadap tugas itu. Penelitian dari Cornell University menunjukkan bahwa sebagian anak kurang percaya diri atau belum punya keterampilan yang cukup, sehingga lebih memilih menghindar daripada mencoba.
3. Anak Mendapat Nilai Jelek dan Menyalahkan Semua Orang
Saat anak mendapatkan nilai buruk dan langsung menyalahkan guru, teman sekelas, bahkan peliharaan sekalipun, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka memerlukan lebih banyak dukungan, bukan hukuman.
Lingkungan yang positif dan suportif justru bisa membantu anak bangkit. Studi pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa tekanan yang berlebihan justru bisa menghilangkan motivasi alami anak dalam belajar.
4. Dipanggil ke Ruang Kepala Sekolah
Jika anak mulai sering dipanggil ke ruang kepala sekolah, bisa jadi ada masalah yang lebih dalam, baik secara akademis, sosial, maupun emosional. Terkadang bukan karena orang tua kurang mendukung, tetapi karena ada situasi spesifik yang sedang dihadapi anak. Penting bagi orang tua untuk tidak langsung marah, melainkan memahami konteks yang terjadi dan mendampingi anak menyelesaikannya.
5. Anak Sering Berbohong
Berbohong memang bagian dari proses tumbuh kembang anak karena mereka mulai memahami cara pandang orang lain dan bagaimana menyembunyikan fakta. Tapi jika kebiasaan berbohong menjadi pola yang berulang, itu bisa jadi sinyal adanya rasa takut, cemas, atau kurangnya kepercayaan diri.
Alih-alih menuduh, orang tua bisa mulai dengan pendekatan yang jujur dan terbuka, seperti mengatakan, "Mama tahu kamu belum ngerjain PR. Coba cerita, kenapa belum kerjain PR." Jika kebohongan sudah sangat sering terjadi atau disertai masalah perilaku lain, konsultasi dengan psikolog anak bisa menjadi langkah bijak.
Editor : Candra Mega Sari