JawaPos.com – Sterilisasi atau kastrasi pada kucing jantan merupakan salah satu langkah penting yang bisa diambil pemilik kucing untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan peliharaannya. Selain mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, prosedur ini juga membawa banyak manfaat bagi perilaku dan kualitas hidup kucing.
Apa Itu Sterilisasi dan Bagaimana Prosedurnya Dilakukan?
Dilansir dari smalldoorvet.com, sterilisasi atau yang juga dikenal dengan istilah kastrasi atau neutering, adalah prosedur operasi untuk mengangkat testis kucing jantan. Operasi ini dilakukan oleh dokter hewan melalui sayatan kecil di bagian skrotum, lalu testis diangkat. Dalam kebanyakan kasus, jahitan tidak diperlukan karena lukanya kecil dan akan sembuh dengan sendirinya.
Prosedur ini sangat aman dan umum dilakukan. Dalam beberapa kasus tertentu, seperti infeksi, trauma, atau adanya testis yang tidak turun, dokter mungkin melakukan prosedur tambahan. Namun, kondisi tersebut jarang terjadi pada kucing.
Salah satu tujuan utama sterilisasi adalah mencegah kucing berkembang biak secara sembarangan. Karena kucing jantan tidak memerlukan siklus birahi untuk kawin, mereka bisa memperbanyak keturunan kapan saja. Dengan sterilisasi, kamu turut berkontribusi mengendalikan populasi kucing yang berlebihan, terutama kucing liar dan yang terlantar di penampungan.
Manfaat Sterilisasi terhadap Perilaku dan Kesehatan Kucing
Selain dari segi reproduksi, sterilisasi juga berdampak besar terhadap perilaku dan kesehatan kucing. Salah satu manfaatnya adalah menurunkan risiko kanker testis dan penyakit menular seperti FIV (Feline Immunodeficiency Virus) yang dapat ditularkan melalui perkelahian antar kucing jantan.
Dari segi perilaku, kucing yang sudah disteril umumnya menjadi lebih tenang, tidak mudah agresif, dan jarang terlibat dalam perkelahian. Mereka juga cenderung tidak berkeliaran terlalu jauh dari rumah, sehingga lebih aman dari risiko tertabrak kendaraan atau bertemu hewan liar.
Kebiasaan menyemprotkan urin atau “spraying” untuk menandai wilayah juga bisa berkurang jika sterilisasi dilakukan sejak dini. Meski tidak selalu hilang sepenuhnya, kemungkinan perilaku ini jauh lebih kecil dibandingkan kucing yang tidak disteril.
Namun, ada kemungkinan kucing jantan masih menunjukkan perilaku kawin jika prosedur dilakukan saat mereka sudah dewasa. Ini karena hormon testosteron masih tersisa di dalam tubuh dan butuh waktu untuk benar-benar hilang. Tapi umumnya, seiring waktu, dorongan seksual ini akan menghilang.
Persiapan Sebelum Operasi dan Perawatan Setelah Sterilisasi
Waktu terbaik untuk mensterilkan kucing adalah saat mereka berusia antara 3 hingga 6 bulan. Pada usia ini, manfaat kesehatan dan perilaku dari sterilisasi bisa dirasakan secara maksimal. Meski begitu, kucing dewasa juga tetap bisa disteril, terutama jika ada alasan medis.
Baca Juga: 5 Hal yang Sebaiknya Kamu Simpan untuk Diri Sendiri, Menurut Para Ahli
Sebelum operasi, dokter hewan biasanya akan meminta pemilik untuk tidak memberi makan atau minum selama beberapa jam. Ini untuk mencegah komplikasi saat kucing dibius. Pemeriksaan fisik dan tes darah juga dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan kucing cukup baik untuk menjalani prosedur.
Setelah operasi, penting untuk menyediakan ruang yang nyaman dan tenang untuk pemulihan. Gunakan alas tidur yang bersih dan kering, dan jika perlu, pasang kerah pelindung (Elizabethan collar) agar kucing tidak menjilat luka. Hindari menggunakan pasir gumpal sampai luka benar-benar sembuh.
Selama masa pemulihan, pastikan kucing tetap berada di dalam rumah dan tidak melompat atau naik ke tempat tinggi. Proses penyembuhan biasanya berlangsung 7–14 hari. Jika tidak ada komplikasi, kucing bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Sterilisasi kucing jantan bukan hanya tindakan medis, tetapi juga bentuk tanggung jawab sebagai pemilik hewan. Selain menjaga kesehatan dan perilaku kucing, prosedur ini juga membantu mengurangi populasi kucing liar yang semakin meningkat.
Jika kamu masih memiliki pertanyaan atau ragu mengenai waktu terbaik atau kondisi khusus pada kucingmu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter hewan. Dengan perawatan yang tepat, kucingmu akan tetap sehat, bahagia, dan nyaman setelah prosedur sterilisasi.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah