JawaPos.com - Di tengah modernisasi, rokok elektrik atau vaping semakin diminati sebagai pilihan gaya hidup baru. Tak hanya sekadar alternatif dari rokok konvensional, vaping menawarkan berbagai rasa menggoda seperti vanila, strawberry, dan tembakau, yang semakin menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda.
Namun, di balik warna-warni dan aroma vaping yang menggoda, tersimpan potensi bahaya yang sering kali terabaikan. Banyak dari kita yang mungkin hanya fokus pada efek langsungnya terhadap paru-paru, tetapi dampak negatifnya jauh lebih luas. Sistem pencernaan, khususnya usus, juga dapat terpengaruh oleh kebiasaan ini.
Melalui video yang dibagikan di akun Instagram pribadinya @doctor.sethi, dr. Sethi menjelaskan tiga alasan mengapa vaping buruk untuk kesehatan usus, di antaranya:
1. Gangguan Mikrobioma Usus
Mikrobioma usus merupakan komunitas mikroorganisme yang hidup di saluran pencernaan, yang berperan penting dalam proses pencernaan, metabolisme, dan sistem imun. Dampak vaping itu sendiri menurut penelitian dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa penggunaan vape dapat mengurangi keberadaan bakteri baik, seperti lactobacillus dan bifidobacterium hingga 30 persen. Akibat penurunan jumlah bakteri baik inilah dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti diare, sembelit, dan peradangan kronis.
2. Pemicu Peradangan Usus
Irritable Bowel Syndrome (IBS) dari vaping dapat meningkatkan risiko sindrom iritasi usus, yang mempengaruhi sekitar 10 hingga 15 persen populasi dewasa di seluruh dunia. Dampak bahan kimia dalam cairan vape, seperti propilen glikol dan gliserin, akan menyebabkan iritasi pada lapisan usus, serta meningkatkan risiko peradangan.
Dalam penelitian yang dikatakan oleh dr. Sethi menunjukkan bahwa vaping dapat meningkatkan permeabilitas usus hingga 50 persen, yang dapat memperburuk kondisi seperti penyakit crohn dan kolitis ulserativa.
3. Melemahkan Penghalang Usus
Vaping juga dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas usus, yang dikenal sebagai leaky gut syndrome. Maksudnya di saat racun melewati lapisan usus, mereka dapat memasuki aliran darah, yang dapat memicu peradangan sistemik.
Penelitian mengatakan bahwa vaping menunjukkan peningkatan permeabilitas usus yang dapat meningkatkan risiko masalah autoimun, risiko lainnya mencapai 70 persen pada seseorang dengan riwayat keluarga penyakit autoimun.
Dapat kita simpulkan bahwa vaping memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan usus, yang dapat menyebabkan gangguan mikrobioma, pemicu peradangan, dan melemahkan penghalang usus. Dengan meningkatnya prevalensi vaping, penting untuk menyadari risiko ini dan dampaknya terhadap kesehatan pencernaan.
Editor : Candra Mega Sari