Diskatan Kuningan Perluas Pemanfaatan Pekarangan lewat Tatapakan Jati

Antara • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:27 WIB
 
Warga memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman stroberi di Kuningan. (Fathnur Rohman/Antara)
Warga memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman stroberi di Kuningan. (Fathnur Rohman/Antara)

 

JawaPos.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan memperluas pemanfaatan pekarangan melalui program Tatapakan Jati pada 2026. 

Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah mengatakan program tersebut menjangkau 92 kelompok di 92 lokasi.

Program itu merupakan pengembangan dari gerakan Taman Masagi yang telah dilaksanakan selama dua tahun untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang di sekitar rumah sebagai sumber pangan.

Baca Juga: Disbudpar Cirebon Telusuri Potensi Budaya di Situs Buyut Kiwot

"Taman Masagi kami mulai dari halaman rumah, sekarang kita perluas menjadi Tatapakan Jati karena yang ingin kita optimalkan bukan hanya halaman, tetapi seluruh tanah pekarangan yang masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan," kata Wahyu dilansir dari Antara di Kuningan.

Dia menjelaskan Tatapan Jati merupakan akronim dari Tanam Tanah Pekarangan, Jaga dan Tekan Inflasi yang diarahkan untuk memperluas ruang produksi pangan di tingkat keluarga.

Menurut dia, pemanfaatan pekarangan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, termasuk untuk tanaman pangan, hortikultura, tanaman obat, dan komoditas lainnya.

Baca Juga: Lanal Cirebon Ungkap Pengiriman Ilegal 75.435 Benih Lobster

Diskatan Kuningan juga menyalurkan benih dan sarana produksi pertanian kepada kelompok penerima manfaat Tahun Anggaran 2026, sebagai dukungan pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Wahyu mengatakan, kelompok penerima terlebih dahulu melalui proses identifikasi dan verifikasi, sebelum mendapatkan dukungan sarana produksi serta pendampingan dalam penanaman dan pemeliharaan.

"Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas, bisa dimulai dari ruang yang kita miliki di sekitar rumah dan dikelola secara produktif," ujar Wahyu.

Dia menegaskan bantuan yang diberikan menjadi bagian awal dari pelaksanaan program, sehingga hasil kegiatan tetap bergantung pada pemanfaatan dan pengelolaan pekarangan oleh kelompok penerima.

"Ukuran keberhasilannya bukan berapa bantuan yang kita berikan, tetapi apakah pekarangan menjadi produktif, tanaman menghasilkan, pangan dimanfaatkan keluarga, terjadi perubahan perilaku, dan ada kontribusi terhadap ketahanan pangan serta pengendalian inflasi," ungkap Wahyu.

Untuk menjaga keberlanjutan kegiatan, penyuluh pertanian memberikan pendampingan teknis, sementara Diskatan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan program di setiap lokasi.

Baca Juga: Dinkes Kuningan Perkuat Surveilans Antisipasi Potensi ISPA

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan Ela Helayati menambahkan, Kelompok Wanita Tani (KWT) memiliki peran dalam menggerakkan pemanfaatan pekarangan, karena berhubungan langsung dengan keluarga dan masyarakat di lingkungannya.

menurut dia, hasil pemanfaatan pekarangan selanjutnya dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga sekaligus mendukung penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).

"Pekarangan yang sederhana dapat ditanami cabai, tomat, sayuran, tanaman obat maupun komoditas lainnya sesuai kondisi setempat," ujar Ela.

Baca Juga: Astra Tol Cipali Gencarkan Keselamatan Pengemudi Cegah Kecelakaan

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
kuningan pertanian ketahanan pangan