JawaPos.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mendampingi petani mengembangkan komoditas ubi jalar.
Hal itu dilakukan salah satunya melalui penerapan teknologi budidaya, demplot, bantuan sarana produksi, dan penguatan kelembagaan.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah mengatakan, pendampingan tersebut didukung potensi kawasan ubi jalar yang mencapai 2.530 hektare.
Baca Juga: Pertamina EP Jatibarang suplai 10.000 liter air bantu warga Indramayu
"Pengembangannya memiliki basis potensi yang kuat karena Kuningan telah ditetapkan sebagai bagian dari Kawasan Pertanian Nasional," ujar Wahyu Hidayah dilansir dari Antara.
Menurut dia, potensi tersebut perlu diikuti penerapan teknologi dan inovasi agar hasil demplot dapat menjadi pembelajaran yang diterapkan petani sesuai kondisi lahan masing-masing.
Diskatan Kuningan mendata hasil demplot ubi jalar yang telah dipanen saat ini mencatat produktivitas sekitar 42 ton per hektare, sedangkan sebelumnya berada pada kisaran 20-25 ton per hektare.
Baca Juga: Pilihan Karier untuk Anak Muda Brebes, dari Dunia Kerja hingga Peluang di Industri Telekomunikasi
“Jika dibandingkan dengan produktivitas 25 ton per hektare, peningkatan tersebut mencapai sekitar 17 ton per hektare. Dengan asumsi harga ubi jalar Rp 4.000 per kilogram, tambahan produksi itu bernilai bruto sekitar Rp 68 juta per hektare,” ungkap Wahyu Hidayah.
Diskatan Kabupaten Kuningan, kata dia, memberikan bantuan sarana produksi kepada 300 petani ubi jalar sebagai bagian dari dukungan budidaya komoditas tersebut.
Wahyu mengatakan bantuan sarana produksi harus diarahkan pada peningkatan hasil dan keuntungan usaha tani.
Sehingga pendampingan teknis tetap diperlukan setelah bantuan diterima petani.
"Pupuk dan sarana produksi adalah input. Tujuan akhirnya bukan pupuk, tetapi produksi. Produksi pun bukan tujuan akhir, melainkan usaha tani yang lebih produktif, lebih menguntungkan, dan keluarga petani yang semakin sejahtera," kata Wahyu Hidayah.
Dia mengatakan demplot menjadi ruang pembelajaran untuk melihat penerapan teknologi secara langsung.
Baca Juga: Karnaval Budaya, Jaipongan hingga Lola KDI Meriahkan Semarak Pesta Rakyat Desa Cikancas
Hal itu sekaligus menjadi bahan bagi penyuluh dalam mendampingi petani mengadopsi inovasi yang sesuai dengan kondisi agroekosistem.
“Pengembangan tersebut dilakukan melalui GEMBOL atau Gerakan Menanam Boled yang mencakup rangkaian budidaya hingga pengembangan nilai tambah komoditas, dengan melibatkan sekitar 300 petani dari 14 kecamatan,” ucap Wahyu Hidayah.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah