Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

BPS Catat Tarif Listrik hingga Komoditas Pangan Picu Inflasi di Cirebon

Antara • Kamis, 2 April 2026 | 16:10 WIB
Kegiatan program Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Cirebon. (Fathnur Rohman/Antara)
Kegiatan program Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kota Cirebon. (Fathnur Rohman/Antara)

 

JawaPos.com–Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon mencatat laju inflasi di wilayahnya mencapai 3,54 persen pada Maret 2026 (year on year/yoy). Inflasi dipicu kenaikan tarif listrik dan sejumlah komoditas pangan utama.

”Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (yoy) pada Maret 2026 yakni tarif listrik, daging ayam ras, beras, jeruk, akademi/perguruan tinggi, telur ayam ras dan lainnya” kata Kepala BPS Kota Cirebon Samiran dilansir dari Antara di Cirebon.

Dia mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) di kota ini mencapai 109,38 pada Maret 2026. Angka itu mengalami kenaikan dibandingkan Maret 2025 yang tercatat 105,64.

Baca Juga: Polres Cirebon Kota Ringkus Enam Tersangka pada Tiga Kasus Narkoba

Angka inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat 0,68 persen. Sementara inflasi kumulatif sejak awal tahun (year to date/ytd) mencapai 1,03 persen.

Samiran menjelaskan, inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran, yang menjadi tolok ukur kebutuhan rumah tangga. Secara khusus, pihaknya mendata tarif listrik menjadi salah satu komoditas yang paling dominan dalam mendorong inflasi tahunan, dengan sumbangan mencapai 1,17 persen.

Selain itu, dia menyampaikan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi signifikan dengan inflasi sebesar 4,37 persen serta andil 1,43 persen terhadap inflasi umum. Beberapa komoditas pangan yang menyumbang inflasi seperti daging ayam ras (0,34 persen), beras (0,29 persen), jeruk (0,13 persen), telur ayam ras (0,12 persen), kangkung (0,09 persen), dan daging sapi (0,06 persen).

Baca Juga: Pemkot Cirebon Siapkan Aturan WFH untuk ASN Mulai Pekan Depan

BPS mencatat pula sejumlah komoditas mengalami deflasi (yoy) yakni bawang merah (-0,11 persen), cabai merah (-0,07 persen), bawang putih (-0,06 persen), wortel (-0,03 persen), hingga buku pelajaran SMA (-0,01 persen). Data inflasi ini dapat menjadi acuan komprehensif bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan, terutama untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Wali Kota Cirebon Effendi Edo menuturkan, pemerintah daerah telah menggencarkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) menjelang Lebaran 2026. Kebijakan itu untuk menjaga stok bahan pokok agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu inflasi.

Tak hanya itu, menurut wali kota, program Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) juga telah diselenggarakan pada 13 Maret 2026. Yakni 1.208 paket bahan pokok yang telah mendapatkan subsidi sebesar Rp 56.700 per paket.

”Selain menekan angka inflasi, yang terpenting program tersebut membantu masyarakat,” ujar Effendi Edo.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#kota cirebon #pangan murah #bps #inflasi