JawaPos.com - Gedung BAT di Kota Cirebon adalah salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan banyak cerita dari masa kolonial Belanda. Gedung yang berlokasi di Jalan Pasuketan, Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk ini menjadi saksi perkembangan Kota Cirebon sejak zaman kolonial dan menjadi simbol industri tembakau yang berkembang pesat pada masa itu.
Dilansir dari kanal YouTube iTrip ID, gedung BAT dibangun pertama kali pada zaman kolonialisme tepatnya pada tahun 1917 oleh Indo Egyptian Cigarettes Company. Hanya saja pada tahun 1924, gedung ini direnovasi ulang. Selang satu tahun kemudian tepatnya pada tahun 1925, gedung ini dibeli oleh perusahaan rokok ternama PT British American Tobacco. Ada alasan tersendiri kenapa perusahaan tersebut melirik gedung BAT, salah satunya karena luas bangunannya.
Pada tahun 1930, perusahaan rokok dari USA tersebut mencatat rekor yang masih belum dikalahkan hingga saat ini. Rekor tersebut yakni, kemampuan memproduksi 17,5 juta batang rokok dalam sehari pada masa kejayaannya.
Pada tahun 1943, kegiatan produksi sempat terhenti tepatnya ketika Perang Dunia Ke-2, dikarenakan gedung diambil alih oleh pemerintahan Jepang. Setelah perang, BAT kembali beroperasi hingga tahun 2010, ketika seluruh produksi dipindahkan ke Malang.
Lokasinya yang strategis di dekat pelabuhan dan stasiun kereta api membuat gedung BAT mudah diakses, menjadikannya tambah bagi perusahaan rokok tersebut dalam distribusi produk tembakaunya di Cirebon dan wilayah sekitarnya.
Gedung BAT Cirebon menampilkan gaya arsitektur Art Deco yang sangat khas dengan sentuhan kolonial Eropa. Arsitektur gedung ini tidak hanya indah, tetapi juga memperlihatkan kualitas konstruksi kokoh dan terjaga. Art Deco yang diterapkan di gedung ini memberikan kesan modern pada zamannya sehingga menjadikannya ikon di tengah-tengah bangunan lainnya di Cirebon.
Pada masa keemasannya, gedung BAT memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Cirebon. Gedung ini menjadi tempat bekerja ratusan pekerja lokal yang diberdayakan dalam industri rokok. Perkembangan industri ini menarik banyak orang dari berbagai daerah untuk menetap di Cirebon, sehingga kota ini menjadi semakin berkembang.
Seiring berjalannya waktu, industri tembakau mengalami perubahan. Pada akhirnya, gedung BAT Cirebon berhenti beroperasi sebagai pabrik rokok dan mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan. Gedung ini kemudian ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, untuk menjaga nilai sejarah dan arsitekturnya yang khas.
Saat ini, gedung BAT lebih difungsikan sebagai destinasi wisata dan tempat berbagai acara budaya maupun komersial. Pengunjung yang datang ke gedung ini tidak hanya disuguhi keindahan arsitektur masa lalu, tetapi juga dapat merasakan atmosfer kolonial yang kuat. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah