Kue apem merupakan kue tradisional yang terbuat dari tepung beras, gula, ragi, dan air. Kue ini biasanya dimasak dengan dua cara: dibakar atau dikukus. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat apem digemari oleh berbagai kalangan.
Namun, lebih dari sekadar makanan, apem memiliki makna simbolik. Kata apem diyakini berasal dari bahasa Arab "afwan" atau "apfun", yang berarti "maaf". Dalam tradisi masyarakat Jawa, terutama di Cirebon, kue apem menjadi simbol permohonan ampun kepada Sang Pencipta. Masyarakat percaya bahwa melalui tradisi Ngapem, mereka diingatkan untuk saling memaafkan dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dilansir dari YouTube Mbah Google Gondrong Gelungan, Ngapem adalah kegiatan tahunan yang biasanya dilakukan sepanjang bulan Safar. Masyarakat membuat kue apem untuk dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan orang sekitar sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi. Beberapa daerah bahkan menyelenggarakan acara khusus yang diisi dengan doa bersama dan pembagian kue apem secara massal.
Di kawasan Cirebon, tradisi ini masih hidup dengan semangat kekeluargaan dan nilai keagamaan yang kuat. Proses pembuatannya pun menjadi momen kebersamaan, di mana anggota keluarga berkumpul dan saling membantu.
Dibandingkan kue tradisional lain seperti serabi atau cucur, kue apem memiliki keistimewaan dalam proses fermentasinya. Penggunaan ragi membuat rasa dan tekstur apem menjadi khas dan mudah dikenali. Rasanya yang lembut serta aromanya yang khas membuat apem selalu dinanti setiap kali bulan Safar tiba.
Tradisi Ngapem adalah contoh nyata bagaimana budaya, agama, dan kuliner bisa berpadu menjadi sebuah kearifan lokal yang sarat makna. Di tengah modernisasi, warisan seperti ini patut dilestarikan agar generasi muda tetap mengenal dan menghargai akar budaya mereka.
Bagi yang ingin merasakan langsung suasana tradisi Ngapem di Cirebon, datanglah di bulan Safar dan nikmati kehangatan masyarakat serta cita rasa kue apem yang penuh makna.
Editor : Candra Mega Sari