JawaPos.com - Sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah yang paling dinantikan oleh umat Islam selama bulan Ramadhan. Ibadah sunnah ini dilakukan setelah sholat isya, baik secara berjamaah di masjid maupun secara individu di rumah, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah rakaat yang sebaiknya dilakukan. Sebagian umat Islam melaksanakan 11 rakaat, sementara yang lain menjalankan 23 rakaat. Kedua pendapat ini memiliki dasar yang kuat dalam sunnah dan hasil ijtihad para sahabat.
Dalam sejarahnya, sholat malam Rasulullah Nabi Muhammad SAW memiliki variasi dalam jumlah rakaat dan panjang bacaan. Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah biasa melaksanakan sholat malam sebanyak 11 rakaat dengan pola 4-4-3. Kesaksian yang sama juga dikonfirmasi oleh Ibnu Abbas saat beliau bermalam di rumah Sayyidah Maimunah. Namun, ada juga riwayat lain yang menyebutkan jumlah 13 rakaat, yang mencakup dua rakaat sebelum fajar.
Baca Juga: 7 Tanda Kamu Terlalu Baik hingga Merugikan Diri Sendiri, Hati-Hati Bisa Menghambat Kesuksesanmu!
Bacaan dalam sholat Rasulullah sangat panjang dan penuh kekhusyukan. Dalam satu rakaat, beliau bisa membaca Al-Baqarah hingga 286 ayat, kemudian dilanjutkan dengan Ali Imran sebanyak 200 ayat, lalu disambung An-Nisa sebanyak 176 ayat sebelum akhirnya rukuk. Para sahabat yang awalnya ingin mengikuti sholat malam ala Rasulullah pun merasa kesulitan karena durasinya yang sangat lama. Ketika ditanya mengapa beliau beribadah dengan begitu panjang, Rasulullah menjelaskan bahwa ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.
Setelah wafatnya Rasulullah, pola sholat malam seperti ini sulit dipertahankan oleh sebagian besar umat Islam. Umar bin Khattab, sebagai khalifah yang bijaksana, berijtihad untuk membuat sholat Tarawih lebih mudah diikuti oleh jamaah tanpa mengurangi esensi ibadahnya. Beliau kemudian mengubah jumlah rakaat menjadi 20 dengan tambahan 3 rakaat witir, sehingga totalnya menjadi 23 rakaat. Cara ini diterapkan agar bacaan tetap panjang tetapi tidak terlalu memberatkan jamaah.
Metode Umar bin Khattab kemudian banyak diterapkan di Makkah dan Madinah serta menjadi salah satu praktik yang umum hingga saat ini. Meski begitu, ada juga umat Islam yang tetap memilih mengikuti kebiasaan Rasulullah dengan melaksanakan 11 rakaat. Keduanya sama-sama memiliki landasan yang kuat dalam sunnah dan sejarah Islam. Oleh karena itu, tidak seharusnya perbedaan jumlah rakaat menjadi bahan perdebatan yang memecah belah umat.
Baca Juga: Bingung Cari Tempat Sarapan Enak di Cirebon? Ini Dia 4 Rekomendasi yang Wajib Dikunjungi
Pada masa awal, sholat Tarawih sempat dilakukan dengan format 4 rakaat dalam satu salam, sebagaimana kebiasaan Nabi. Namun, seiring berjalannya waktu dan untuk mempermudah jamaah, format ini diubah menjadi 2 rakaat per sholat dengan salam setiap dua rakaatnya. Hal ini dilakukan agar jamaah tidak merasa terlalu lelah saat menjalankan ibadah, terutama bagi yang kurang terbiasa dengan durasi panjang dalam satu kali sholat. Dengan demikian, sholat tetap dapat dilakukan dengan khusyuk tanpa mengurangi jumlah bacaan yang panjang.
Yang paling penting dalam sholat Tarawih bukanlah jumlah rakaatnya, tetapi bagaimana seorang muslim bisa menjalankannya dengan penuh kekhusyukan. Nabi sendiri lebih menekankan pada kualitas bacaan dan kekhusyukan dibandingkan sekadar banyaknya rakaat. Bacaan Alquran yang panjang dan mendalam menjadi inti dari sholat malam yang beliau lakukan. Oleh karena itu, yang lebih utama adalah bagaimana seseorang bisa merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap rakaatnya.
Dalam pelaksanaannya, baik 11 rakaat maupun 23 rakaat tetap membutuhkan kekhusyukan dan pemahaman akan esensi ibadah. Tidak sedikit yang melaksanakan 11 rakaat dengan durasi yang sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan menit. Sebaliknya, ada juga yang menjalankan 23 rakaat dengan cepat tanpa benar-benar memahami ayat yang dibaca. Padahal, tujuan utama sholat Tarawih adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar menyelesaikan rakaat sebanyak mungkin.
Baca Juga: Pemkot Cirebon dan RRI Gelar Dialog Interaktif untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana
Seiring berkembangnya waktu, banyak masjid yang tetap menerapkan 23 rakaat seperti yang dilakukan di Makkah dan Madinah. Namun, ada juga yang memilih 11 rakaat agar lebih ringan dan bisa dijalankan oleh lebih banyak jamaah. Terlepas dari perbedaan ini, semua umat Islam seharusnya tetap menjaga ukhuwah dan saling menghormati pilihan satu sama lain. Ramadhan adalah bulan untuk memperbanyak amal ibadah, bukan untuk memperbanyak perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Selain itu, semangat sholat Tarawih juga harus disertai dengan niat yang tulus dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak orang yang semangat di awal Ramadhan tetapi mulai meninggalkan sholat Tarawih di pertengahan bulan. Padahal, keberkahan Ramadhan ada di sepanjang bulan, terutama di sepuluh malam terakhir. Oleh karena itu, lebih baik menjalankan sholat Tarawih secara konsisten meskipun sedikit daripada hanya semangat di awal lalu meninggalkannya.
Dengan memahami sejarah dan esensi sholat Tarawih, umat Islam dapat lebih fokus pada kualitas ibadah daripada jumlah rakaat. Perbedaan dalam jumlah rakaat bukanlah alasan untuk saling menyalahkan, tetapi seharusnya menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dalam ibadah sunnah. Yang terpenting adalah bagaimana setiap muslim bisa meraih keberkahan Ramadhan dengan menjalankan ibadah dengan ikhlas dan penuh kekhusyukan. (*)