Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Ibu Sumarsih Hadir dalam Mixtape Terbaru Hindia Bertajuk Doves, '25 on Blank Canvas

Muhammad Rayhan Satria Aji • Senin, 24 Februari 2025 | 20:30 WIB

Visual lirik video (kamis)
Visual lirik video (kamis)
JawaPos.com - Baskara Putra atau dalam proyek musik solonya dikenal sebagai Hindia, baru saja merilis sebuah mixtape berjudul 'Doves, '25 on Blank Canvas'. Mixtape yang berisi 14 lagu dan 2 rekaman suara itu dirilis di saluran YouTube pribadinya pada Senin (24/2) dini hari.

Adapun daftar judul lagu dan rekaman dalam mixtape, di antaranya:

  1. Perseverance (In the Face of Drief)
  2. Hated in the Nation
  3. Everything U Are
  4. Kids
  5. (mimi)
  6. Betty ft. White Chorus 7. a feeling
  7. Semua Lagu Cinta Terdengar Sama
  8. The World is Ending All Over Again
  9. Letdown
  10. (kamis)
  11. Anak itu Belum Pulang
  12. Harga Satu Pill
  13. YAAYO
  14. Aku Berharap ini Tak Terjadi Padamu
  15. Loved by You

Salah satu yang menarik di antara isi dari mixtape Hindia adalah rekaman suara Ibu Sumarsih berjudul (kamis). Ibu Sumarsih adalah aktivis HAM di Indonesia yang dikenal sebagai ibu dari Wawan (Bernardinus Realino Norma Irawan), seorang mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas dalam Tragedi Semanggi I pada tahun 1998.

Sejak kepergian anaknya, Sumarsih aktif memperjuangkan keadilan bagi korban pelanggaran HAM di Indonesia. Ia menjadi salah satu penggagas Aksi Kamisan, sebuah aksi damai yang dilakukan setiap Kamis di depan Istana Merdeka untuk menuntut penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.

Dalam rekaman suaranya di mixtape 'Doves, '25 on Blank Canvas', Ibu Sumarsih bercerita tentang bagaimana kehidupannya sehari-hari bersama anaknya, Wawan. Kemudian Ibu Sumarsih menjelaskan kejadian yang merenggut nyawa anaknya, hingga apa yang dirasakan setelahnya.

Berikut adalah lirik lagu lengkapnya, dikutip dari Genius:

[Intro]
Dan tidak akan ada orang yang rela anak yang dicintai ditembak atau dibunuh

[Spoken word]
Wawan itu anak yang menyenangkan
Hobinya membaca
Dia di kamar mandi pun selalu baca koran
Atau bawa komik atau buku
Kalau hari Sabtu, hari Minggu
Kami masak bersama-sama
Pada saat makan bersama itu, jam berapa pun makan malam bersama
Kami bercerita tentang keseharian
Dari pembicaraan yang sederhana, kami membicarakan masalah politik
Karena pada tahun '97-'98 masalah politik Indonesia semakin memanas
Setelah pembicaraan sampai kepada masalah politik, selalu ditutup dengan "Besok dimasakin apa?"
Karena pada tahun '98 itu demonstrasi dan hari ke hari semakin membesar
Tahun '98 terjadi tragedi kemanusiaan yang sudah diselidiki oleh Komnas HAM
Yaitu dalam berkas tragеdi penembakan mahasiswa
Peristiwa Sеmanggi 1, Semanggi 2, Trisakti
Kemudian berkas kerusuhan 13-15 Mei '98
Dan berkas penghilangan paksa atau penculikan aktivis pro-demokrasi
Wawan mahasiswa Atma Jaya
Juga aktif di masyarakat dengan ikut anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Mengadvokasi korban 13, 15 Mei '98 sebagai anggota tim relawan kemanusiaan
Setiap Wawan datang ke rumah sakit yang diminta adalah obat-obatan untuk teman-temannya yang berdemonstrasi
Dan menurut kesaksian, pada tanggal 13 November hari Jumat itu, jam 10 pagi
Bersama enam orang temannya, Wawan menetralisir gas air mata di depan kampus Atma Jaya dengan menyemprotkan air hidran
Sekitar jam 3 sore, aparat masuk ke Atma Jaya
Ada korban yang jatuh, Wawan ngasih tahu
"Pak, itu ada korban. Boleh ditolong atau tidak?"
Tentara itu mengatakan, "Boleh, silakan"
Kemudian Wawan mengeluarkan bendera putih, dilambai-lambaikan
Tetapi pada saat Wawan akan mengangkat korban, justru Wawan ditembak
Banyak orang mengatakan dari pagi Wawan menggunakan ID card Tim Relawan untuk Kemanusiaan
Dan Wawan diautopsi oleh Dr. Budi Sampurno
Wawan meninggal dunia karena ditembak dengan peluru tajam standar militer di dada sebelah kiri mengenai jantung dan parunya
Dan menurut kesaksian juga bahwa Wawan ditembak oleh aparat di halaman kampusnya ketika sedang menolong seorang korban yang juga ditembak oleh aparat
Setelah Wawan meninggal dunia, hari Jumat 13 November '98 Wawan ditembak, hari Sabtu Wawan dimakamkan
Pulang dari makam ada wartawan bertiga begitu, di rumah sunyi
Kemudian saya bilang, "Saya akan berhenti bekerja
Saya tidak sanggup untuk bertemu dengan orang"
Saya sangat mencintai Wawan, kami sekeluarga mencintai Wawan
Tapi duka cita saya bertransformasi pada cinta terhadap sesama
Dengan memperjuangkan agar kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia ini
Dipertanggungjawabkan sesuai dengan undang-undang yang berlaku
Yaitu Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM
Untuk mewujudkan agenda reformasi yang ketiga yang diperjuangkan oleh Wawan dan kawan-kawannya
Yaitu tegakkan supremasi hukum
Bagi saya, warna hitam bukan lambang duka cita tetapi lambang keteguhan
Jangan yang ada hanya korban, tetapi pelakunya tidak ada

Semoga, apa yang diperjuangkan oleh Ibu Sumarsih dan para korban pelanggaran HAM lainnya dapat menemui keadilannya. Semoga, tidak ada lagi Ibu yang harus kehilangan anaknya akibat pelanggaran HAM di kemudian hari, karena; "Tidak akan ada orang yang rela anak yang dicintai ditembak atau dibunuh," oleh Ibu Sumarsih.

Editor : Candra Mega Sari
#lirik lagu #sumarsih #mixtape #Hindia #aktivis ham