Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Mengenal Sosok KH Abdul Halim, Pahlawan Nasional dari Majalengka

Siti Nahdia Usman • Minggu, 10 November 2024 | 11:00 WIB
KH Abdul Halim
KH Abdul Halim
 
JawaPos.com – Majalengka merupakan sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Barat yang menyimpan kisah perjuangan tak kalah penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Di balik keberagaman budaya dan tradisinya, Majalengka melahirkan pahlawan-pahlawan yang berani memperjuangkan kemerdekaan dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Salah satu tokoh yang tak dapat dilupakan adalah KH Abdul Halim, seorang ulama Nahdatul Ulama (NU) yang tidak hanya dikenal karena kiprahnya dalam dunia agama, tetapi juga peran pentingnya dalam gerakan kemerdekaan.
 
Kyai Haji Abdul Halim, lebih dikenal sebagai KH Abdul Halim Majalengka, lahir pada 26 Juni 1887 di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Ia merupakan seorang ulama, tokoh pergerakan nasional, dan pendiri berbagai organisasi Islam.
 
Dilansir dari jabar.nu.or.id, nama asli Abdul Halim adalah Otong Syatori, dan ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara dalam keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan yang kuat. Ayahnya, KH Muhammad Iskandar, adalah seorang penghulu dan pengasuh pesantren, sedangkan ibunya, Hj Siti Mutmainah, juga berasal dari keluarga ulama.
 
Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Nongkrong Hidden Gem di Majalengka, Punya View Alam yang Asri dan Sangat Instagramable
 
Sejak kecil, KH Abdul Halim mendapatkan pendidikan agama yang mendalam. Ia belajar di berbagai pesantren di Jawa, termasuk pesantren Bobos di Cirebon dan pesantren Ciwedus di Kuningan. Pada usia 21 tahun, ia menikah dengan Siti Murbiyah, putri dari Kyai Haji Muhammad Ilyas. Pada tahun 1909, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan mendalami ilmu agama di bawah bimbingan ulama terkemuka seperti Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
 
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1911, KH Abdul Halim mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka untuk mendidik santri. Pada tahun 1912, ia juga mendirikan organisasi Hayatul Qulub, yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan perekonomian masyarakat Muslim. Organisasi ini berfokus pada pemberdayaan santri dan masyarakat melalui pendidikan serta usaha ekonomi.
 
KH Abdul Halim dikenal sebagai sosok yang toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat antarulama. Ia berusaha menjembatani perbedaan antara kelompok tradisionalis dan modernis dalam Islam. Pendekatan yang dilakukannya membuatnya dihormati oleh banyak kalangan dalam masyarakat.
 
Baca Juga: Pemkab Kuningan Pastikan Seluruh Desa Bebas dari Perilaku BABS
 
Selama masa penjajahan Jepang, KH Abdul Halim terlibat aktif dalam berbagai badan penasihat yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan terlibat dalam perumusan dasar negara. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ia memimpin gerilyawan di daerah Majalengka dan membantu pasukan TNI dalam menghadapi agresi Belanda.
 
KH Abdul Halim diakui sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pengembangan pendidikan Islam. Pada tahun 2008, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Majalengka dan sebagai nama sebuah universitas swasta di Bandung
 
Setelah kemerdekaan Indonesia, KH Abdul Halim aktif dalam politik dengan menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (PB KNID) Cirebon. Tak hanya itu, ia juga aktif membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada waktu Belanda melancarkan Agresi Militer II yang dimulai 19 Desember 1948, Abdul Halim aktif membantu kebutuhan logistik bagi pasukan TNI dan para gerilyawan.
 
Baca Juga: Resep Sup Sayuran Rendah Kalori, Pilihan Tepat untuk Diet Sehat dan Mengenyangkan
 
KH Abdul Halim juga diangkat oleh Residen Cirebon menjadi Bupati Majalengka. Sesudah perang kemerdekaan berakhir, Abdul Halim tetap aktif dalam organisasi keagamaan dan membina pondok pesantren Santi Asmoro.
 
Salah satu warisan terpenting KH Abdul Halim adalah pendirian pesantren Santi Asromo pada tahun 1932. Pesantren ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga keterampilan praktis seperti pertanian dan kerajinan tangan. Melalui lembaga ini, ia berupaya mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga terampil dalam berbagai bidang.
 
KH Abdul Halim meninggal pada 7 Mei 1962 di Desa Pasirayu, Kecamatan Sukahaji, Majalengka. Warisan pemikiran dan perjuangannya tetap hidup melalui lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya serta pengaruhnya dalam sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Dengan segala jasa dan dedikasinya terhadap umat dan bangsa, KH Abdul Halim akan selalu dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah
#KH Abdul Halim #Nahdatul Ulama (NU) #pahlawan nasional #majalengka #kemerdekaan #ulama