Kamis, 30 Juli 2026
Logo

Israel Ancam Pemimpin Tertinggi Iran Usai Serangan Rudal Terbaru yang Lukai Lebih dari 200 Orang

Jumat, 20 Jun 2025 | 17:54 WIB
Salah Satu Bangunan di Komplek Rumah Sakit Soroka, Israel yang berasap akibat terkena serangan rudal Iran. (AP Photo/Leo Correa)
Salah Satu Bangunan di Komplek Rumah Sakit Soroka, Israel yang berasap akibat terkena serangan rudal Iran. (AP Photo/Leo Correa)

JawaPos.com - Menteri Pertahanan Israel melontarkan ancaman langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran pada Kamis (19/6), menyusul serangan rudal atau misil Iran yang melukai sedikitnya 240 orang dan menghantam rumah sakit di wilayah selatan Israel serta kawasan pemukiman di dekat Tel Aviv. Di saat bersamaan, Israel membalas dengan menyerang reaktor air berat Iran yang terkait dengan program nuklir mereka.


Dilansir dari Associated Press, Israel Katz Menteri Pertahanan Israel secara tegas menyalahkan Ayatollah Ali Khamenei, orang nomor satu di Iran.

"Militer telah diberi instruksi dan tahu bahwa demi mencapai semua tujuannya, orang ini sama sekali tidak boleh terus hidup," katanya.

Sebelumnya, pejabat AS menyebut bahwa Presiden Donald Trump telah memveto rencana Israel untuk membunuh Khamenei. Trump kemudian menegaskan bahwa tidak ada rencana pembunuhan terhadap pemimpin Iran itu, setidaknya untuk saat ini.

Israel melanjutkan serangannya ke reaktor air berat Arak sebagai bagian dari upaya terbaru menargetkan fasilitas nuklir Iran. Konflik ini sendiri bermula sejak Jumat lalu, ketika Israel melancarkan gelombang serangan udara yang mengejutkan terhadap lokasi militer, perwira tinggi, dan ilmuwan nuklir Iran.

Sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Washington menyatakan bahwa setidaknya 639 orang tewas di Iran, termasuk 263 warga sipil, dan lebih dari 1.300 orang mengalami luka. Sebagai balasan, Iran telah meluncurkan ratusan misil dan drone yang menewaskan sedikitnya 24 orang di Israel dan melukai ratusan lainnya.

Menurut Kementerian Kesehatan Israel, dari total 240 korban luka akibat serangan terbaru, empat diantaranya mengalami luka serius. Puluhan korban berasal dari serangan di rumah sakit Soroka, Beersheba.

Seorang pejabat militer Israel mengatakan bahwa Iran menggunakan misil berkepala hulu ganda dalam serangan tersebut. Ia menambahkan bahwa jenis senjata ini menyulitkan sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dalam mencegat serangan.

Analisis independen atas jenis misil tersebut belum tersedia. Namun Iran sebelumnya telah memberikan isyarat bahwa mereka tengah mengembangkan teknologi persenjataan semacam itu.

Mayoritas korban luka akibat serangan pada Kamis mengalami luka ringan. Termasuk lebih dari 70 pasien dari Soroka Medical Center, yang langsung dievakuasi oleh tim darurat saat asap membumbung dari lokasi.

Pihak rumah sakit menyatakan bahwa gedung operasi lama menjadi sasaran utama serangan, namun bangunan tersebut sudah dikosongkan beberapa hari sebelumnya. Soroka kini hanya menerima pasien dalam kondisi kritis.

Sebagai antisipasi, beberapa rumah sakit di Israel telah mengaktifkan rencana darurat dalam sepekan terakhir. Beberapa di antaranya mengubah lahan parkir bawah tanah menjadi ruang perawatan dan memindahkan pasien-pasien yang paling rentan ke tempat aman.

Israel juga mengoperasikan bank darah bawah tanah yang diperkuat untuk situasi darurat. Sistem ini kembali diaktifkan pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang berkepanjangan di Gaza.

Dua dokter yang diwawancarai Associated Press menyebut misil menghantam sesaat setelah sirine peringatan berbunyi. Ledakan keras terdengar dari ruang aman tempat mereka berlindung.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam keras serangan tersebut dan berjanji akan membalas. "Kami akan membuat rezim tiran di Teheran membayar harga penuh," tegasnya.

Walaupun sebagian besar misil dan drone Iran berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Israel, serangan terus berlanjut. Iran tetap menolak tuntutan internasional untuk menghentikan program nuklirnya.

Iran menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, meski mereka telah memperkaya uranium hingga 60%. Angka itu hanya selangkah secara teknis menuju tingkat senjata nuklir sebesar 90%.

Israel, yang dipercaya memiliki senjata nuklir meski tidak pernah mengakuinya, menjadi satu-satunya negara di Timur Tengah dengan kapabilitas tersebut. Sementara itu, Ayatollah Khamenei menolak permintaan Amerika untuk menyerah.

"Keterlibatan militer dari pihak Amerika akan menyebabkan kerugian yang tak dapat diperbaiki bagi mereka," ujar Khamenei. Israel sendiri telah menargetkan sejumlah fasilitas nuklir Iran di Natanz, Isfahan, dan sekitar Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dijadwalkan menuju Jenewa untuk mengadakan pertemuan dengan perwakilan Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa. Hal ini mengisyaratkan adanya inisiatif diplomatik baru di tengah eskalasi konflik. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
Sumber : APNews
Bagikan:

Berita Terkini

Populer

LogoGraha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Telepon / Fax:
021-53699659 / 021-5349207
Epaper
Akses EpaperBerlangganan Koran Jawa Pos Digitalhttps://digital.jawapos.com
Download Google PlayDownload App Store
© 2026 PT. Jawa Pos Grup Multimedia