Ratusan Ribu Jemaah Haji Indonesia Padati Muzdalifah, Siap Jalani Mabit dan Lanjut ke Mina

JawaPos.com - Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, ratusan ribu jemaah haji asal Indonesia mulai diberangkatkan menuju Muzdalifah pada Kamis malam (5/6/2025). Proses pendorongan dimulai sejak pukul 19.00 Waktu Arab Saudi (WAS), berlangsung secara bertahap dan tertib.
Sekitar pukul 19.30 WAS, gelombang jemaah mulai tiba di kawasan Muzdalifah. Di sana, mereka diarahkan ke markas masing-masing sesuai dengan syarikah yang telah ditentukan.
Setibanya di markas, jemaah langsung menunaikan salat magrib dan isya secara jama’ qashar sesuai dengan tuntunan ibadah haji. Area Muzdalifah yang juga dikenal dengan sebutan masyaril haram menjadi tempat mabit bagi para jemaah hingga melewati tengah malam.
Para jemaah tampak khusyuk menjalani malam di padang terbuka itu dengan memperbanyak doa dan zikir. Meski suhu cukup panas, semangat dan kekhidmatan tetap terasa di antara para peserta haji.
Di tengah suasana malam yang sunyi dan sakral, jemaah juga mulai mengumpulkan kerikil yang akan digunakan untuk lempar jumrah di Jamarat, Mina. Jika belum sempat mengumpulkan, mereka bisa memperoleh kerikil dari syarikah yang telah disiapkan.
Selama berada di Muzdalifah, jemaah tetap dalam kondisi ihram. Mereka diminta untuk menjaga larangan-larangan ihram, termasuk tidak mencabut rambut, memotong kuku, atau berhubungan suami istri hingga melakukan tahallul awal usai jumrah aqabah.
Sekitar tengah malam, jemaah yang telah selesai mabit mulai diberangkatkan ke Mina untuk melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya, yaitu mabit dan lempar jumrah. Proses pendorongan dilakukan dengan pengawasan ketat dari petugas haji Indonesia.
Salah satu jemaah dari Kloter 11 Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG 11), Adinda (24), mengungkapkan rasa syukurnya bisa menjalani ibadah haji bersama ibunda tercinta. “Alhamdulillah, bisa mendampingi ibu dengan senang selama Armuzna,” ucapnya penuh semangat.
Pengalaman spiritual yang dijalani Adinda dan jemaah lainnya di Muzdalifah menjadi momen penting dalam proses penyempurnaan rukun haji. Banyak jemaah yang memanfaatkan waktu untuk bermuhasabah dan memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.
Sementara itu, sekitar 60 ribu jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan berisiko tinggi menjalani murur. Dalam skema ini, jemaah hanya berhenti sejenak di Muzdalifah tanpa turun dari bus dan langsung menuju Mina.
Jalur bus murur dipisahkan dari jalur jemaah reguler untuk memastikan kelancaran mobilisasi. Langkah ini diambil demi keamanan dan kenyamanan jemaah dengan kebutuhan khusus tersebut.
Dilansir dari kemenag.go.id, proses pemindahan dari Arafah ke Muzdalifah dan selanjutnya ke Mina berjalan tertib dan lancar. Petugas haji Indonesia terus berjaga memastikan seluruh rangkaian ibadah dapat terlaksana dengan baik dan aman. (*)



