Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Mengenal Lebih Dekat 3 Keraton di Cirebon, Ikon Wisata yang Penuh Makna dan Sejarah

Fawwaz Ralli Perdana • Jumat, 21 Februari 2025 | 13:00 WIB
Keraton Kacirebonan (Dok. kelpulasaren.cirebonkota.go.id)
Keraton Kacirebonan (Dok. kelpulasaren.cirebonkota.go.id)

JawaPos.com - Cirebon merupakan salah satu destinasi favorit bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang ingin menikmati liburan. Salah satu daya tarik utama di kota ini adalah wisata keraton. Cirebon memiliki beberapa keraton yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Dilansir dari cirebonkota.go.id, berikut tiga keraton yang menjadi magnet bagi para wisatawan.

1. Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan, yang dahulu bernama Keraton Pakungwati, merupakan salah satu objek wisata unggulan Kota Cirebon. Didirikan pada tahun 1529 M oleh Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), keraton ini menjadi pusat pemerintahan Caruban Nagari. Nama Pakungwati diambil dari Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang dikenal cantik, berbudi luhur, dan mendukung Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam serta membina negara.

Keraton Kasepuhan menawarkan berbagai daya tarik wisata, seperti acara Pesisir Cirebon yang meliputi Kirab Budaya, festival topeng nusantara, dan grebeg syawal. Acara-acara ini menampilkan kekayaan budaya dari berbagai kabupaten di Jawa Barat, seperti Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu. Fasilitas pendukung di keraton ini meliputi museum berisi peninggalan sejarah, sanggar tari, tempat pertunjukan, serta area parkir dan toilet umum.

Terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Keraton Kasepuhan mudah diakses dari Terminal Harjamukti atau Stasiun Kejaksaan. Dengan naik becak, perjalanan dari terminal memakan waktu sekitar 20 menit, sedangkan dari stasiun sekitar 30 menit. Keberadaan keraton ini tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pusat pelestarian budaya dan destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung.

2. Keraton Kanoman

Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1588 Masehi (1510 Saka) oleh Sultan Kanoman I (Sultan Badridin), keturunan ke-VII dari Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Prasasti tahun berdirinya keraton ini terpahat pada pintu Pandopa Jinem yang menuju ruangan Perbayaksa, menggunakan simbol Surya Sangkala dan Chandra Sangkala. Simbol-simbol tersebut melambangkan angka 1, 5, 1, dan 0, yang jika dibaca menjadi tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi.

Silsilah para sultan Keraton Kanoman dimulai dari Sunan Gunung Jati dan dilanjutkan oleh para panembahan hingga sultan-sultan berikutnya. Beberapa sultan yang memerintah antara lain Sultan Kanoman I (Sultan Badridin) hingga Sultan Kanoman XII (Sultan Muhammad Emirrudin), yang merupakan sultan sah yang memimpin saat ini. Silsilah panjang ini menunjukkan betapa Keraton Kanoman memiliki akar sejarah yang kuat dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Cirebon.

Untuk memasuki Keraton Kanoman, pengunjung akan melewati tembok tinggi berbentuk lengkung, area pasar, dan sebuah lapangan hijau yang dikelilingi tembok tinggi. Gerbang dengan ukiran indah menjadi pintu masuk menuju kompleks keraton yang penuh dengan nilai sejarah dan arsitektur khas. Lokasi keraton ini mudah dijangkau dan menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang menarik di Cirebon.

Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, Keraton Kanoman juga menjadi pusat kegiatan budaya dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Berbagai acara seperti upacara adat, festival seni, dan pertunjukan tari topeng kerap digelar di keraton ini, menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Keberadaan museum di dalam keraton juga menambah daya tarik, dengan koleksi benda-benda pusaka, peninggalan sejarah, dan artefak yang menggambarkan kejayaan Kesultanan Cirebon di masa lalu.

Dengan segala keunikan dan kekayaannya, Keraton Kanoman tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat Cirebon, tetapi juga warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan.

3. Keraton Kecirebonan

Keraton Kacirebonan dibangun pada tahun 1800 oleh Ratu Raja Resminingpuri menggunakan uang pensiunan. Bangunan utamanya terdiri dari ruang tidur, ruang kerja sultan, pecira (tempat menyimpan benda kuno), kamar jimat, prabayasa, dapur, dan teras yang berfungsi sebagai ruang tunggu. Keraton ini dirancang sebagai tempat tinggal sultan beserta keluarganya, sekaligus pusat pemerintahan.

Selain bangunan induk, terdapat Paseban Kulon dan Paseban Wetan yang berfungsi sebagai tempat penerima tamu dan latihan tari topeng khas Cirebon. Paseban berbentuk semi-terbuka dengan atap joglo dan ditopang oleh delapan tiang serta empat saka guru. Sementara itu, Tajug merupakan mushola yang menjadi tempat ibadah bagi keluarga keraton.

Keraton Kacirebonan menyimpan banyak benda peninggalan sejarah, seperti keris, wayang, perabotan kayu antik, foto-foto kesultanan, dan koleksi baju pengantin. Di dalam pendopo, terdapat etalase yang memajang guci pemberian negara tetangga, uang kuno, perlengkapan perang, dan gamelan. Koleksi-koleksi ini menunjukkan kekayaan budaya dan sejarah Kesultanan Cirebon.

Keraton Kacirebonan adalah pecahan dari Keraton Kanoman, yang berawal dari konflik antara Pangeran Muhammad Haerudhin, putra mahkota Sultan Kanoman IV, dengan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanannya berlangsung selama lima tahun sebelum ia ditangkap dan diasingkan ke Ambon pada tahun 1696. Belanda kemudian mengangkat Pangeran Imammudin sebagai Sultan Kanoman V, yang memicu perpecahan dan berdirinya Keraton Kacirebonan sebagai simbol perlawanan terhadap pengaruh asing.

*&

Editor : Siti Nur Qasanah
#cirebon #Kasepuhan #Keraton #kanoman #kacirebonan #wisatawan