Nama "Biawak" sendiri diambil dari satwa biawak (Varanus salvator) yang banyak dijumpai di pulau ini. Sebelumnya, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Rakit, namun seiring dengan populasi biawak yang meningkat, nama tersebut pun berubah.
Pulau ini memiliki populasi biawak yang cukup besar, diperkirakan sekitar 300 ekor biawak berkeliaran di area tersebut. Keberadaan biawak menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin melihat reptil besar ini secara langsung dalam habitat alaminya. Selain biawak, terdapat juga makam ulama dan bangsawan Belanda di pulau ini, seperti makam Syeikh Syarif Hasan dan Z.M. Willem III, yang menambah nilai sejarah dan budaya tempat ini.
Dilansir dari indramayukab.go.id, salah satu daya tarik Pulau Biawak adalah mercusuar bersejarahnya yang dibangun pada tahun 1872 pada masa pemerintahan ZM Willem III. Mercusuar ini berdiri kokoh setinggi 65 meter dan masih berfungsi hingga saat ini dengan lampu suar bertenaga surya. Mercusuar ini tidak hanya menjadi penanda bagi para pelaut tetapi juga menjadi objek wisata menarik bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana Pulau Biawak dari ketinggian.
Dengan luas sekitar 120 hektar, Pulau Biawak memiliki topografi yang beragam. Sekitar 80 hektar dari luas pulau ini adalah hutan bakau yang lebat, sementara 40 hektar sisanya adalah hutan pantai dan darat. Keberadaan hutan bakau sangat penting karena berfungsi sebagai ekosistem penyangga yang melindungi pulau dari abrasi dan memberikan habitat bagi berbagai spesies ikan dan burung.
Baca Juga: Mengenal Taman Raden Benadi: Oase Hijau yang Jadi Tempat Rekreasi dan Relaksasi Baru di Kota Cirebon
Keindahan alamnya yang masih asri menjadikan Pulau Biawak sebagai tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan alam.
Untuk mencapai Pulau Biawak, pengunjung dapat menggunakan kapal maupun perahu motor. Pemerintah Kabupaten Indramayu menyediakan dua kapal penyeberangan bantuan dari Pemprov Jawa Barat, masing-masing berkapasitas 30 orang dan 10 orang. Kapal ini hanya beroperasi setiap Sabtu dan Minggu dengan tarif Rp 290 ribu per orang.
Selain kapal, sebagai alternatif, kamu juga bisa menyewa perahu motor nelayan seharga Rp 2 juta untuk 10 orang. Kapal milik Pemkab mampu menyeberangi Pulau Biawak dalam waktu 1-1,5 jam, sementara perahu motor membutuhkan sekitar 4 jam. Kelebihan perahu motor adalah dapat disewa kapan saja, tanpa harus menunggu akhir pekan.
Di balik keindahan alamnya, Pulau Biawak juga menyimpan cerita-cerita mistis dan legenda lokal. Salah satu legenda terkenal adalah tentang biawak asuhan Nyonya Belanda yang konon memiliki kalung berbeda di lehernya.
Dengan beragam daya tarik tersebut, pemerintah setempat semakin berupaya untuk mengembangkan potensi wisata di Pulau Biawak dengan meningkatkan infrastruktur seperti dermaga dan menyediakan kapal khusus untuk transportasi wisatawan. Upaya ini bertujuan untuk memfasilitasi akses wisatawan serta meningkatkan daya tarik wisata pulau tersebut.
Keindahan alami dan eksotisme Pulau Biawak menjadikannya sebagai tujuan wisata yang patut dikunjungi bagi siapa saja yang ingin merasakan kedamaian dan keindahan alam Indonesia.