JawaPos.com–Cirebon merupakan sebuah kota di Pesisir Utara Jawa Barat yang dikenal sebagai Kota Udang dan Kota Wali.
Disebut sebagai Kota Udang, karena kebanyakan masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan penghasil udang. Sedangkan mengapa disebut Kota Wali? Sebab wilayah ini merupakan salah satu tempat penyebaran agama Cirebon kental akan jejak penyebaran agama Islam juga keragaman budaya yang unik.
Berdasar portal Pemerintah Kota Cirebon, Pakuan Pajajaran merupakan sebuah kerajaan besar yang tidak tunduk kepada kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Raja Pakuan Pajajaran Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi beserta istrinya, Subanglarang, memiliki seorang putra bernama Pangeran Walang Sungsang atau dikenal sebagai Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana tidak bisa menjadi pewaris takhta sebab mengikuti ajaran agama dari ibunya yaitu Islam. Sehingga takhta dilanjutkan Prabu Surawisesa, anak dari istri kedua, yang bernama Nyai Cantring Manikmayang.
Kemudian, Pangeran Cakrabuana mendirikan Kuta Kosod untuk Dalem Agung Pakungwati dan mendirikan pemerintahan di daerah Kampung Kebon Pesisir yang sebelumnya dipimpin Ki Gedeng Alang-Alang atau Ki Danusela. Letak Kampung Kebon Pesisir berada dekat dengan Kerajaan Galuh yaitu bagian selatan Cirebon.
Sebagai pemimpin terdahulu, Ki Gedeng Alang-Alang juga ditunjuk sebagai pengurus pelabuhan milik Kerajaan Galuh yang bernama Pelabuhan Muara Jati. Dan sebagai balasan, penduduk Kampung Kebon Pesisir harus memberikan upeti ke kerajaan tersebut, yaitu terasi. Saat rakyat Kerajaan Galuh menerima upeti yang diberikan, kemudian tercetuslah kata, seperti ci dari kata cai yang berarti air dari bahasa Sunda dan rebon yang berarti sejenis udang kecil untuk membuat terasi. Dari sinilah nama Cirebon itu berasal.
Saat takhta diambil alih oleh Pangeran Cakrabuana yang ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi, berdirilah Kerajaan Cirebon. Peristiwa ini ditandai juga dengan Kerajaan Cirebon yang tidak lagi memberikan upeti ke Kerajaan Galuh. Terjadilah peristiwa penyerangan dari Kerajaan Galuh ke Kerajaan Cirebon, kemudian Kerajaan Galuh kalah, hingga menjadikan Kerajaan Cirebon berjaya dengan Pelabuhan Muara Jati.
Wilayah kekuasaan Pangeran Cakrabuana kerap disebut Caruban Larang, kemudian saat kepemimpinan Syekh Syarif Hidayatullah atau yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, wilayah ini sudah disebut sebagai Nagari Cerbon.
Kata Caruban sendiri dalam bahasa Sunda yang berarti campuran. Dinamakan Caruban sebab wilayah ini terdapat pencampuran berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, latar belakang, hingga mata pencaharian.
Sunan Gunung Jati merupakan seorang keponakan dari Pangeran Cakrabuana yang mengambil alih takhta Kerajaan Cirebon. Sunan Gunung Jati juga merupakan salah satu dari kesembilan anggota Wali Songo yang berperan untuk menyebarkan ajaran Islam berdasar karakteristik dari masyarakat sekitarnya.
Peran Sunan Gunung Jati dalam penyebaran agama Islam sangat signifikan, sehingga menjadikan Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Kerajaan Cirebon juga dapat dikatakan sebagai Kesultanan Cirebon. Seiring pergantian takhta, kini Kesultanan Cirebon memiliki tiga sultan yang terkenal. Yakni Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Sultan Cirebon. Keberadaan sultan-sultan ini ditandai juga dengan adanya keraton, seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan.
Hingga saat ini, Cirebon masih mempertahankan identitas tradisionalnya, mulai dari bangunan bersejarah, seperti Keraton, Masjid, dan lainnya yang tetap dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga. Tidak hanya untuk dilestarikan, tempat-tempat bersejarah ini juga menjadi salah satu objek wisata untuk hiburan yang menarik perhatian bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah