JawaPos.com–Tahu Lamping atau tahu kopeci adalah kuliner khas Kuningan, yang memiliki sejarah menarik dan kaya akan nilai budaya. Tahu ini dikenal karena tekstur yang lembut dan rasa yang gurih, serta sering disamakan dengan tahu Sumedang.
Namun, Tahu Lamping memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari tahu lain. Tahu Lamping memiliki tekstur yang lembut dan renyah di luar, serta lebih padat di dalam. Sebaliknya, Tahu Sumedang cenderung lebih kosong di bagian dalam dan memiliki tekstur yang lebih kering.
Dilansir dari ksdae.menlhk.go.id, asal-usul Tahu Lamping dapat ditelusuri kembali ke abad ke-14, ketika Laksamana Cheng Ho melakukan ekspedisi ke Nusantara. Dalam rombongan tersebut terdapat Huang Lam Ping, seorang pria Tiongkok yang menetap di kaki Gunung Ciremai. Dia memperkenalkan pembuatan tahu kepada masyarakat setempat menggunakan kedelai yang ditanam sendiri.
Huang Lam Ping tidak hanya membawa teknik pembuatan tahu, tetapi juga mengajarkan seni bela diri Wing Chun kepada penduduk lokal. Keahliannya dalam memasak dan beratraksi membuat tahu yang dihasilkannya menjadi sangat populer. Tahu ini dikenal dengan nama Tahu Lamping, diambil dari nama pencetusnya.
Proses pembuatan Tahu Lamping dimulai dengan merebus kedelai selama beberapa jam. Setelah itu, kedelai digiling hingga halus, kemudian disaring untuk memisahkan ampasnya. Cairan kedelai yang dihasilkan direbus kembali hingga menggumpal dan dipotong menjadi bentuk persegi sebelum digoreng. Hasilnya adalah tahu yang renyah di luar dan lembut di dalam.
Tahu Lamping sering dijadikan camilan dan disajikan dengan nasi atau sambal. Masyarakat Kuningan mengonsumsinya sebagai makanan sehari-hari, terutama saat berkumpul bersama keluarga atau saat acara tertentu. Selain itu, tahu ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah Kuningan.
Seiring berjalannya waktu, popularitas Tahu Lamping semakin meningkat. Banyak pedagang menjajakan tahu ini di sepanjang jalan menuju Kuningan dan menjadikannya salah satu oleh-oleh khas Kuningan yang wajib dicoba. Harga Tahu Lamping pun terjangkau, membuatnya mudah diakses oleh semua kalangan.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah