Dalam pertemuan hangat bersama para petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (12/5/2025), Romo Syafi'i mengenang momen pertamanya menapakkan kaki di Tanah Suci pada tahun 1995. Saat itu, ia hanyalah seorang jemaah biasa, bukan pejabat, bukan pula tokoh penting.
"Saya menangis tersedu-sedu ketika pertama kali melihat Ka'bah," ungkapnya penuh haru, dilansir dari kemenag.go.id.
Tangisan itu, menurutnya, bukan hanya karena rasa syukur, tapi juga karena teringat perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwah di tengah berbagai penolakan.
Romo Syafi'i juga bercerita bahwa dalam haji pertamanya, ia langsung dipercaya menjadi Wakil Ketua Rombongan (Wakarom). Ia melayani para jemaah lanjut usia dengan sepenuh hati, bahkan ikut memanggul koper dan memastikan semua anggota rombongan tiba dengan selamat.
Ia mengenang bagaimana dirinya harus bertugas di tengah suhu ekstrem nyaris 50 derajat Celsius. Tubuhnya sempat mengalami mimisan, namun niat untuk melayani membuatnya tetap kuat bertahan. "Saya niatkan diri saya untuk melayani. Itu saja," katanya lirih.
Kisah pelayanan itu ternyata menjadi titik awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia haji. Sejak itu, Romo Syafi'i diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali ke Tanah Suci dalam berbagai kapasitas dan peran. Sebuah karunia yang ia syukuri sepenuh hati.
Filosofi hidupnya pun terbentuk dari pengalaman spiritual yang mendalam tersebut. Ia meyakini bahwa tidak ada satu pun ucapan, tindakan, atau niat manusia yang luput dari pengawasan Allah SWT. "Semua dicatat, dilihat, dan akan dibalas oleh-Nya," tegasnya di hadapan ratusan petugas haji.
Kini, meskipun menyandang jabatan sebagai Wamenag, prinsip itu tetap ia pegang teguh. Ia mengaku tidak takut menyuarakan kebenaran, meski sering dianggap terlalu vokal. "Saya hanya tak bisa menyembunyikan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan," ujar Romo Syafi'i mantap.
Ia juga memberikan motivasi kepada para petugas haji yang akan mengemban amanah besar dalam melayani tamu Allah. Baginya, melayani jemaah bukanlah pekerjaan biasa, melainkan ibadah yang penuh kemuliaan. "Tak semua orang mendapat kesempatan ini," ucapnya pelan namun penuh makna.
Ia menutup sambutannya dengan doa dan harapan agar keikhlasan yang ditanamkan dalam pelayanan menjadi jalan pembuka bagi terkabulnya cita-cita para petugas. "Semoga dengan keikhlasan Bapak-Ibu, Allah akan membalasnya dengan apa yang selama ini menjadi impian kita," ucapnya tulus.
Pertemuan sore itu diwarnai suasana haru. Banyak mata yang basah, bukan hanya karena kisah Romo Syafi'i yang menyentuh, tapi karena mereka sadar bahwa jalan menuju keikhlasan memang tidak mudah, namun di sanalah letak kemuliaannya.
Semangat dan keteladanan Romo Syafi'i menjadi cerminan bahwa melayani dengan hati bisa mengangkat seseorang menjadi pribadi yang bermakna bagi banyak orang. Ia bukan hanya pejabat, tapi juga pelayan sejati bagi tamu-tamu Allah.