7 Ciri Perilaku Orang yang Suka Menyalahkan Orang Lain Menurut Psikologi

Mohammad Maulana Iqbal • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 21:26 WIB
Ilustrasi orang yang selalu menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri (Magnific)
Ilustrasi orang yang selalu menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri (Magnific)

 

JawaPos.com - Beberapa orang menunjukkan perilaku khas dengan kecenderungan menyalahkan orang lain dalam setiap masalah yang terjadi.

Perilaku menyalahkan ini dalam psikologi sering kali mencerminkan mekanisme pertahanan diri yang terbentuk dari pengalaman hidup tertentu.

Dalam kajian psikologi, sikap seperti ini dikaitkan dengan ketidakmampuan menerima tanggung jawab secara penuh.

Menelusuri perilaku orang yang selalu menyalahkan menurut psikologi membuka pemahaman menarik tentang dinamika kepribadian mereka.

Melansir dari Geediting pada Jumat (7/8), ada tujuh ciri perilaku orang yang selalu menyalahkan orang lain kecuali diri sendiri menurut psikologi.

Baca Juga: Menurut Psikologi, 9 Ucapan Ini Menunjukkan Rendahnya Kecerdasan Emosional Seseorang saat Tersakiti

1. Mengalihkan Tanggung Jawab

Ciri khas utama dari individu yang gemar mengalihkan kesalahan adalah kemampuan mereka untuk selalu menemukan kambing hitam dalam setiap situasi.

Mereka memiliki keahlian khusus dalam menghindari akuntabilitas dan memindahkan beban tanggung jawab kepada orang lain di sekitar mereka.

Pola ini berakar dari kebutuhan mendalam untuk melindungi citra diri mereka dari kerusakan atau kritik.

Menurut Carl Rogers, seorang ahli kejiwaan terkemuka, ketakutan untuk menerima kesalahan merupakan hal yang universal karena mengancam persepsi kita tentang identitas diri.

Namun, kelompok individu ini membawa kecenderungan tersebut ke tingkat yang ekstrem, seolah-olah mengakui kesalahan akan menghancurkan seluruh gambaran diri mereka.

2. Tidak Pernah Meminta Maaf

Indikator lain yang menunjukkan kecenderungan untuk menyalahkan orang lain adalah ketiadaan permintaan maaf dalam kamus komunikasi mereka.

Kata-kata "maaf" atau "saya salah" hampir tidak pernah keluar dari mulut mereka, bahkan dalam situasi yang jelas-jelas memerlukan pengakuan kesalahan.

Sikap ini mencerminkan ketidakmampuan atau keengganan untuk mengakui bahwa mereka telah berbuat kesalahan atau menyakiti orang lain.

Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa seseorang dengan mata yang jeli dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada manusia yang dapat menyimpan rahasia selamanya.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka tidak meminta maaf secara verbal, tindakan dan sikap mereka akan mengungkap karakter asli mereka.

3. Memposisikan Diri sebagai Korban

Fenomena menarik lainnya adalah kecenderungan mereka untuk selalu memposisikan diri sebagai pihak yang dirugikan dalam berbagai situasi kehidupan.

Mereka seolah-olah menjadi magnet bagi kesialan dan ketidakberuntungan, namun tidak pernah melihat diri mereka sebagai penyebab masalah tersebut.

Pola ini merupakan mekanisme pertahanan diri yang bertujuan untuk menjaga harga diri dan menghindari rasa bersalah.

Carl Jung, seorang psikiater asal Swiss, menyatakan bahwa mengenali kegelapan dalam diri sendiri adalah metode terbaik untuk menghadapi kegelapan orang lain.

Dengan kata lain, mengakui kekurangan dan kesalahan pribadi merupakan kunci untuk memahami dan menangani kekurangan orang lain secara efektif.

Baca Juga: 8 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Pamer Olahraga di Media Sosial Menurut Psikologi

4. Pola Hubungan yang Berulang Kali Gagal

Tidak mengherankan jika individu yang terus-menerus mengalihkan kesalahan mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan yang sehat dan harmonis.

Baik itu persahabatan, hubungan kerja, maupun hubungan romantis, semuanya cenderung mengalami kehancuran atau berakhir dengan tidak baik.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa orang yang memiliki kebiasaan menyalahkan orang lain cenderung memiliki kualitas hubungan yang rendah.

Penelitian tersebut mengungkap bahwa individu-individu ini sering kali menunjukkan ketidakmampuan untuk berempati dan memahami sudut pandang orang lain.

Kemampuan empati dan pemahaman perspektif merupakan aspek krusial dalam menjaga koneksi positif dengan orang lain, yang sayangnya tidak dimiliki oleh kelompok ini.

5. Sangat Kritis terhadap Orang Lain

Orang yang sering mengalihkan kesalahan biasanya juga merupakan individu yang terlalu kritis dan selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain.

Mereka memiliki mata yang tajam untuk melihat kekurangan dan kelemahan orang lain, namun anehnya buta terhadap kesalahan mereka sendiri.

Kecenderungan ini menciptakan standar ganda dimana mereka menuntut kesempurnaan dari orang lain sambil memberikan toleransi penuh untuk diri mereka sendiri.

Albert Bandura, seorang ahli kejiwaan terkenal, pernah menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses sosial yang terjadi dalam konteks sosial.

Hal ini menekankan bagaimana interaksi kita dengan orang lain dapat membentuk tingkah laku dan sikap kita, termasuk kecenderungan untuk menjadi terlalu kritis.

6. Seringkali Sangat Sukses secara Profesional

Twist yang mungkin tidak kamu duga adalah bahwa orang yang memiliki kebiasaan menyalahkan orang lain seringkali justru sangat sukses dalam karir profesional mereka.

Kesuksesan ini terjadi karena mereka memiliki keahlian luar biasa dalam memanipulasi situasi dan orang-orang di sekitar mereka untuk keuntungan pribadi.

Mereka berhasil mempertahankan citra yang sempurna karena tidak pernah terlihat membuat kesalahan, sebab semua kesalahan selalu dialihkan kepada orang lain.

Abraham Maslow, seorang ahli kejiwaan Amerika, pernah mengatakan bahwa yang diperlukan untuk mengubah seseorang adalah mengubah kesadaran mereka tentang diri mereka sendiri.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun individu-individu tersebut mungkin berhasil menaiki tangga karir dengan taktik mereka, pertumbuhan personal dan kesadaran diri mereka mungkin tertinggal jauh di belakang.

7. Menolak Masukan dan Kritik

Tanda terakhir yang menunjukkan kecenderungan menyalahkan orang lain adalah penolakan terhadap umpan balik atau kritik konstruktif.

Mereka cenderung memandang kritik sebagai serangan personal daripada sebagai kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki diri.

Sikap defensif ini membuat mereka menutup diri dari berbagai peluang pembelajaran dan perbaikan yang sebenarnya bisa membantu mereka tumbuh.

Reaksi mereka terhadap kritik biasanya adalah mencari alasan atau menyalahkan pemberi kritik, bukan merenungkan kebenaran dari masukan tersebut.

Carl Rogers menekankan bahwa satu-satunya orang yang benar-benar terdidik adalah mereka yang telah belajar bagaimana cara belajar dan berubah, yang sayangnya tidak dimiliki oleh kelompok individu ini.

Baca Juga: 7 Ciri Pria yang Terlalu Berusaha Jadi Alpha Menurut Psikologi, Justru Pertanda Insecure?

Editor : Candra Mega Sari
menyalahkan orang psikologi perilaku