JawaPos.com - Bayangkan jika kalian memiliki Rp700.000 pada tahun 2000 dan menggunakannya untuk membeli emas. Di tahun ini, nilai emas yang kalian beli tersebut telah berkembang menjadi Rp16.240.000, yang berarti uang kalian mengalami pertumbuhan sebesar 2.220%.
Namun, di sisi lain, jika kalian pada tahun 2000 tanpa sengaja ikut serta dalam IPO Bank BCA dengan harga saham Rp14.400 per lembar, maka hari ini nilai investasinya sudah menjadi Rp181.500.000.
Artinya, dalam periode waktu yang sama, uang tersebut tumbuh sebesar 25.828% hanya karena diinvestasikan dalam saham Bank BCA.
Bank BCA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 31 Mei 2000 dengan harga awal Rp14.400 per lembar saham. Sebagai catatan, sebelum tahun 2014, satu lot saham terdiri dari 500 lembar, berbeda dengan sistem saat ini yang hanya 100 lembar per lot. Dengan modal Rp700.000 pada saat itu, kalian sudah bisa membeli satu lot saham Bank BCA.
Sebagai gambaran, Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta di tahun 2000 berkisar Rp231.000 per bulan. Artinya, untuk mengumpulkan Rp700.000, seseorang harus menabung selama kurang lebih empat bulan dengan penghematan yang sangat ketat.
Namun, jika kalian berhasil membeli satu lot saham Bank BCA saat IPO, yang saat itu berjumlah 500 lembar, lalu karena kesibukan bekerja baru menyadari kepemilikan saham tersebut 25 tahun kemudian, kalian pasti akan terkejut melihat harga saham Bank BCA yang kini telah mencapai Rp9.075 per lembar.
Saat pertama kali menghitung keuntungan, kalian mungkin berpikir bahwa saham tersebut hanya naik 548%. Namun, setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata keuntungan yang diperoleh mencapai 25.828%! Bagaimana bisa terjadi lonjakan sebesar itu? Jawabannya terletak pada beberapa kali stock split yang dilakukan oleh Bank BCA dalam kurun waktu 25 tahun terakhir.
Pertama, pada tahun 2001, saham Bank BCA mengalami stock split dengan rasio 1:2, yang berarti jumlah saham kalian bertambah menjadi 1.000 lembar. Kemudian, pada tahun 2004, jumlah saham kembali bertambah menjadi 2.000 lembar akibat stock split dengan rasio yang sama. Pada tahun 2008, jumlahnya meningkat menjadi 4.000 lembar, dan terakhir, pada tahun 2021, dengan rasio stock split 1:5, jumlah saham kalian bertambah menjadi 20.000 lembar.
Selain bertambahnya jumlah lembar saham, harga beli per lembar saham juga mengalami penyesuaian. Awalnya, harga pembelian kalian adalah Rp14.400 per lembar, tetapi setelah mengalami empat kali stock split, harga tersebut turun menjadi hanya Rp35 per lembar. Dengan harga saham Bank BCA saat ini yang telah mencapai Rp9.075 per lembar, nilai investasi kalian meningkat sebesar 25.828%!
Sementara itu, orang tua kita yang berinvestasi dalam emas mungkin juga tersenyum melihat kenaikan harga emas sebesar 2.220% dalam 25 tahun terakhir. Namun, bagi mereka yang membeli saham Bank BCA sejak IPO, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar.
Lantas, apakah menabung emas adalah keputusan yang salah? Tentu saja tidak. Emas tetap mengalami kenaikan nilai yang cukup signifikan. Di masa lalu, menyimpan uang dalam bentuk emas adalah hal yang lumrah karena dianggap sebagai aset yang aman dan selalu meningkat nilainya. Namun, melalui video ini, saya ingin memberikan perspektif tambahan bahwa ada instrumen investasi lain yang juga bisa memberikan keuntungan lebih besar, yaitu saham perusahaan.
Baca Juga: 5 Pilihan Mobil Travel Terbaik di Cirebon Untuk Perjalanan Nyaman dan Bebas Ribet
Yang lebih menarik lagi, angka pertumbuhan 25.828% tersebut belum termasuk dividen yang rutin dibagikan oleh Bank BCA sejak IPO. Jika dividen turut diperhitungkan, maka total keuntungan dari investasi saham ini akan jauh lebih besar.
Lalu, mengapa harga saham Bank BCA bisa meningkat begitu pesat? Jawaban sederhananya adalah karena kinerja perusahaan yang terus bertumbuh dari tahun ke tahun.
Bagaimana cara melihat pertumbuhan suatu perusahaan? Salah satu indikator paling mudah adalah dengan melihat peningkatan laba bersihnya. Pada tahun 2000, laba bersih Bank BCA tercatat sebesar Rp1,8 triliun. Lima tahun kemudian, pada 2005, labanya meningkat menjadi Rp3,6 triliun. Pada tahun 2010, laba bersihnya mencapai Rp8,48 triliun, dan pada tahun 2015, angkanya melonjak hingga Rp18 triliun.
Jika kita percepat ke tahun 2024, berdasarkan laporan keuangan terakhir, laba bersih Bank BCA telah mencapai Rp54,8 triliun! Saat pertama kali melantai di bursa, valuasi Bank BCA hanya sekitar Rp4,1 triliun. Namun, pada tahun 2010, ketika laba bersihnya mencapai Rp8,48 triliun, valuasi perusahaan ini sudah naik menjadi Rp86 triliun. Kini, di tahun 2024, dengan laba bersih sebesar Rp54,8 triliun, valuasi Bank BCA telah menyentuh angka Rp1.100 triliun!
Maka, sangat masuk akal jika harga sahamnya terus mengalami kenaikan. Coba bayangkan, apakah mungkin harga saham Bank BCA di tahun 2010 masih sama dengan harga saat IPO di tahun 2000, padahal laba bersihnya sudah berlipat ganda? Tentu tidak. Begitu pula di tahun 2024, dengan laba bersih yang mencapai Rp54,8 triliun, mustahil harga sahamnya masih berada di level 2010.
Sejauh ini, kita baru melihat pertumbuhan saham hanya dari sisi laba bersihnya. Padahal, masih banyak indikator lain yang bisa digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan. Namun, melihat pertumbuhan laba bersih sudah cukup untuk memahami mengapa harga saham Bank BCA terus meningkat secara signifikan.
Meskipun investasi saham bisa memberikan keuntungan yang luar biasa, penting untuk diingat bahwa tidak semua saham memiliki pertumbuhan seperti Bank BCA. Jika kalian asal memilih saham tanpa analisis yang matang, bukan tidak mungkin hasilnya juga akan asal-asalan. Oleh karena itu, memahami ilmu investasi saham sangatlah penting. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah