Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak pasti atau mengancam, respons alami manusia adalah merasa bingung, cemas, sedih, bahkan tak berdaya. Namun, masalah bisa muncul ketika perasaan negatif itu dibiarkan berlarut-larut tanpa pengelolaan yang baik. Jika terus dibiarkan, emosi ini dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti overthinking berkepanjangan atau stres akut. Oleh karena itu, penting untuk belajar bagaimana cara mengelola emosi.
Salah satu cara yang dapat membantu adalah dengan menggunakan prinsip stoikisme. Stoikisme adalah filosofi yang berfokus pada pengelolaan diri dan membantu kita memahami serta menerima apa yang terjadi di sekitar kita.
Dilansir dari kanal YouTube Satu Persen - Indonesian Life School, berikut adalah tiga ajaran stoikisme yang bisa diterapkan agar hidup tenang di ketidakpastian.
1. Mempersiapkan Diri terhadap Hal Buruk yang Mungkin Terjadi
Dalam kehidupan, hal-hal buruk akan selalu ada dan pasti terjadi pada kita. Meskipun terdengar pesimistis, ini adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi sekaligus filsuf stoik, menyarankan agar kita selalu mempersiapkan diri terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi setiap hari.
Salah satu kebiasaannya adalah mengingatkan dirinya sendiri setiap pagi bahwa ia mungkin akan bertemu dengan orang-orang yang menyebalkan atau menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Dengan menyiapkan mental sejak awal, ia tidak mudah larut dalam emosi ketika hal buruk benar-benar terjadi. Pendekatan ini membantu kita tetap tenang, karena jika hari kita berjalan baik, kita akan merasa lebih bersyukur, dan jika menghadapi kesulitan, kita sudah siap secara mental.
Namun, bagaimana caranya mempersiapkan diri tanpa jatuh ke dalam overthinking? Jawabannya ada di poin berikutnya.
2. Membedakan Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Kita Kontrol
Salah satu prinsip utama stoikisme adalah memahami bahwa dalam hidup ini, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak. Ketidakpastian sering kali muncul dari hal-hal yang berada di luar kendali kita, seperti pendapat orang lain, perasaan gebetan terhadap kita, pandemi, cuaca, atau bencana alam.
Epictetus, seorang filsuf stoik lainnya, menekankan bahwa tugas utama kita adalah membedakan antara faktor eksternal yang tidak bisa kita kontrol dan hal-hal yang bisa kita kendalikan. Sering kali, ketidakbahagiaan kita muncul karena kita terlalu berusaha mengendalikan sesuatu yang sebetulnya berada di luar kendali kita. Padahal, satu-satunya yang benar-benar bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri serta cara kita berpikir, bagaimana kita merespons suatu keadaan, dan bagaimana kita menyikapi suatu situasi.
Sebagai contoh, kita mungkin tidak bisa mengontrol kapan banjir akan berakhir, tetapi kita bisa mengontrol tindakan kita, seperti minum vitamin agar tubuh tetap vit. Kita tidak bisa memaksa gebetan untuk menyukai kita, tetapi kita bisa memperbaiki diri agar menjadi lebih menarik dan membangun hubungan dengan lebih baik. Dengan memahami batasan kendali ini, kita bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan fokus pada hal-hal yang memang bisa kita ubah.
3. Menerima Realitas dan Ketidakpastian dalam Hidup
Prinsip terakhir dalam stoikisme adalah belajar untuk menerima segala sesuatu yang terjadi, termasuk menerima bahwa hal-hal buruk memang bagian dari kehidupan dan bahwa banyak hal tidak bisa kita kendalikan.
Epictetus pernah berkata, "Jika kamu berharap dunia selalu berjalan sesuai keinginanmu, kamu akan selalu kecewa. Namun, jika kamu menerima dunia apa adanya, hidupmu akan lebih damai." Menerima kenyataan memang tidak selalu mudah dan membutuhkan latihan. Mungkin awalnya kita masih sering marah atau sulit untuk tetap tenang. Namun, yang terpenting adalah kita menyadari bahwa penerimaan adalah proses yang harus terus kita kembangkan.
Itulah tiga prinsip dasar dalam filosofi stoikisme yang bisa kamu coba terapkan agar hidupmu lebih tenang. Memahami serta menjalankan filosofi ini tentu bukan hal yang mudah, melainkan membutuhkan waktu, usaha, dan kesabaran agar benar-benar meresap dalam pola pikir dan tindakan kita. Namun, jika kamu bisa menerapkannya secara konsisten, sedikit demi sedikit, kamu akan mulai merasakan manfaatnya.
Editor : Candra Mega Sari