Kejang adalah gejala utama epilepsi, dibagi menjadi kejang total dan kejang parsial. Kejang total terjadi di seluruh tubuh dan dibagi lagi menjadi beberapa jenis yakni kejang tonik-klonik, kejang absans, kejang tonik, dan kejang mioklonik. Kejang parsial hanya terjadi di bagian tertentu dan terbagi menjadi kejang parsial sederhana dan kejang parsial kompleks.
Epilepsi disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Sebagian besar penyebab terjadinya epilepsi masih dalam penelitian, tetapi diduga terkait dengan sejumlah faktor seperti yang dilansir dari laman alodokter.com, yakni:
- Cedera kepala
- Malformasi arteri vena
- Meningitis
- HIV/AIDS
- Lumpuh otak (cerebral palsy)
- Sindrom Down
- Neurofibromatosis
Selain itu, ada kondisi atau penyakit yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami epilepsi, antara lain:
- Kelahiran prematur
- Kelainan otak saat lahir
- Lahir dalam kondisi kekurangan oksigen (hipoksia)
- Diabetes selama kehamilan
- Perdarahan otak
- Tumor otak
- Riwayat epilepsi dalam keluarga
- Stroke
- Penyakit alzheimer
- Penyalahgunaan NAPZA, seperti kokain
- Konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Demensia
- Infeksi saat kehamilan sehingga janin mengalami kerusakan otak
Melansir dari laman siloamhospitals.com, terdapat prosedur pertolongan pertama saat epilepsi kambuh yang bisa dilakukan, yaitu:
1. Memindahkan Penderita Epilepsi ke Tempat yang Aman
Jika Anda menemukan penderita epilepsi yang kejang di tempat berbahaya, tetap tenang dan perlahan pindahkan ke tempat yang aman. Singkirkan benda tajam di sekitar untuk mencegah cedera. Mintalah orang di sekitar untuk menjauh agar penderita memiliki ruang untuk bernapas.
2. Melindungi Kepala
Melindungi kepala penderita epilepsi dari benturan sangat penting. Letakkan bantal atau tumpukan pakaian di kepala penderita. Baringkan penderita dalam posisi miring untuk membuka jalan napas dan mencegah tersedak air liur atau muntah.
3. Melonggarkan Pakaian
Melonggarkan pakaian, terutama di bagian leher, penting agar penderita dapat bernapas dengan mudah saat kejang.
4. Memperhatikan Durasi Kejang
Penting untuk memperhatikan durasi kejang untuk menentukan perlunya bantuan medis. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, terjadi kembali setelah yang pertama, penderita tidak sadar setelah berhenti, atau mengalami cedera, segera hubungi tenaga medis.
5. Tidak Memasukan Benda Asing ke Dalam Mulut Penderita Epilepsi
Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut penderita saat kejang, karena bisa menyebabkan kerusakan gigi, tersedak, atau gagal napas. Jangan pula menahan tubuh penderita saat kejang, karena bisa meningkatkan risiko cedera fatal.
Pengobatan epilepsi bertujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul melalui berbagai metode. Obat anti kejang dapat diberikan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas kejang, seperti asam valproate, lamotrigine, levetiracetam, topiramate, dan carbamazepine.
Selain obat, penderita juga disarankan untuk menjalani terapi seperti stimulasi saraf vagus, deep brain stimulation, dan neurostimulasi responsif. Diet ketogenik, yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat, juga dapat membantu, terutama pada anak-anak di bawah pengawasan dokter.
Jika pengobatan lain tidak efektif, operasi mungkin dilakukan untuk mengangkat bagian otak yang menjadi sumber kejang, tanpa mempengaruhi fungsi vital. Operasi bisa dilakukan dengan teknik minimal invasif seperti operasi lubang kunci dengan laser dan bantuan MRI.