JawaPos.com - Anak kecil mengekspresikan perasaan mereka dengan menangis, karena ini adalah cara utama mereka untuk berkomunikasi sebelum mereka bisa berbicara dengan lancar. Otak mereka yang masih dalam tahap perkembangan belum memungkinkan mereka untuk memahami sudut pandang orang lain secara penuh.
Menangis adalah hal yang wajar, dan itu menandakan bahwa anak mulai mengenali dan merasakan emosinya. Namun, banyak orang dewasa yang merasa tidak nyaman dengan tangisan anak karena menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan atau reaksi berlebihan. Terlebih lagi, saat anak tantrum, orang tua sering kali kewalahan dan spontan mengatakan hal-hal seperti "berhenti menangis", "jangan merengek", "anak laki-laki nggak boleh menangis", "masa laki-laki cengeng?", "itu bukan alasan untuk menangis", atau "diam, sudah lupakan saja".
Tanpa disadari, kata-kata seperti ini dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Memaksa anak untuk menahan emosinya justru akan menghalangi mereka untuk belajar mengenali, merasakan, dan mengelola perasaan mereka dengan cara yang sehat. Ini berdampak pada keterampilan seperti empati, pengendalian emosi, dan ketahanan mental.
Menekan emosi tidak akan membuat rasa sakit hilang. Sebaliknya, melarang anak menangis dapat menyebabkan penumpukan emosi yang akhirnya meledak dalam bentuk perilaku agresif atau ledakan emosi yang lebih besar.
Dilansir dari thenaturalparentmagazine.com, berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda pahami tentang menangis:
1. Emosi Anak Bukan Sesuatu yang Harus Diperbaiki
Emosi anak adalah hal alami dan tidak perlu “diperbaiki”. Cobalah melihat dari perspektif anak, orang dewasa juga akan menangis ketika mengalami situasi yang sulit.
Bayangkan Anda mengalami hari yang buruk, proyek besar Anda gagal, kemudian dimarahi atasan. Lalu ketika Anda pulang dengan perasaan hancur, pasangan Anda berkata "berhenti menangis", apakah itu langsung membuat Anda merasa lebih baik? Tentu tidak. Hal yang sama juga berlaku pada anak-anak.
2. Berikan Kasih Sayang
Ketika anak Anda menangis gunakan momen ini untuk mengajarkan sesuatu yang berharga kepada mereka. Anda bisa memberikan respons penuh kasih dengan memeluk mereka, duduk di sampingnya, atau memberikan mainan favorit untuk membantu anak belajar menenangkan emosinya.
Respons seperti ini dapat membantu sistem syaraf anak untuk merespon bahasa emosional mereka. Ketika Anda dapat memahami perasaan dan mengekspresikannya dengan baik, maka Anak juga akan merespons dengan mengelolanya dengan cara lebih sehat.
3. Memberikan Ketenangan
Melansir thenaturalparentmagazine.com, penelitian pada tahun 2015 menyebutkan bahwa laki-laki yang sering dihukum waktu kecil karena menangis cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola kemarahan saat dewasa. Daripada melarang anak untuk menangis, Anda bisa memberikan validasi positif dengan kata-kata berikut:
Baca Juga: 7 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Menggerogoti Waktu Senggangmu, Hindari agar Hidup Lebih Produktif
"Ibu mendengar kamu"
"ayah di sini bersamamu"
"ayah paham kamu benar-benar sedih karena itu"
"wajar kalau kamu merasa seperti ini"
"ini memang terasa tidak adil"
"ayah juga merasa seperti itu jika ada di posisimu saat ini"
Mungkin terdengar sepele untuk memvalidasi perasaan anak, namun dengan membiarkan mereka menangis dan mengekspresikan emosi dengan bebas, secara tidak langsung akan melatih mereka untuk menjadi manusia yang lebih sehat secara mental.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah