JawaPos.com - Pernahkah Anda tetap menginginkan makanan tertentu meskipun sudah kenyang? Keinginan ini mungkin lebih dari sekadar nafsu makan sesaat. Penelitian baru menunjukkan bahwa ingatan tentang makanan dapat berperan besar dalam menentukan berat badan seseorang.
Penelitian inovatif yang dipublikasikan di ScienceDaily pada 15 Januari 2025, mengungkap sistem memori di otak yang terkait dengan preferensi makanan, khususnya makanan manis dan berlemak. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang hubungan antara ingatan makanan, makan berlebihan, dan obesitas.
"Di dunia saat ini, kita terus-menerus dibombardir dengan iklan dan pemicu lingkungan yang dirancang untuk mengingatkan kita tentang pengalaman makanan yang menyenangkan," kata Dr. de Lartigue, dikutip dari ScienceDaily pada Selasa (21/1).
Para ilmuwan dari Monell Chemical Senses Center menemukan bahwa neuron tertentu di hippocampus otak tikus bertanggung jawab dalam membentuk ingatan terkait makanan. Neuron ini memengaruhi perilaku makan dan berat badan, mendorong konsumsi makanan manis dan berlemak meskipun rasa kenyang sudah tercapai.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Yuk Luruskan Salah Kaprah dalam Dunia Kesehatan Agar Banyak Orang Lebih Paham
"Yang mengejutkan adalah kami telah menemukan populasi neuron tertentu di hippocampus yang tidak hanya membentuk memori terkait makanan ini tetapi juga mendorong perilaku makan kita. Hubungan ini dapat memiliki implikasi signifikan terhadap berat badan dan kesehatan metabolisme," ujar Dr. de Lartigue. Penelitian ini memberikan bukti kuat tentang hubungan langsung antara ingatan makanan dan regulasi berat badan.
Penelitian ini menggunakan model tikus untuk memahami mekanisme otak yang mendasari preferensi makanan. Tikus, seperti manusia, menunjukkan preferensi terhadap makanan manis dan berlemak, dan otak mereka memiliki sistem yang serupa dalam memproses informasi sensorik. Studi ini menemukan bahwa neuron-neuron yang mengkode memori makanan manis dan berlemak sangat aktif ketika tikus terpapar pada makanan tersebut.
Aktivitas ini memicu respons yang mendorong tikus untuk mengonsumsi lebih banyak makanan, bahkan ketika mereka sudah merasa kenyang. Hal ini menunjukkan bahwa ingatan terhadap makanan dapat mengesampingkan sinyal kenyang alami tubuh.
Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan, terutama dalam konteks meningkatnya masalah obesitas global. Dengan memahami bagaimana ingatan makanan memengaruhi perilaku makan, para ilmuwan dapat mengembangkan strategi baru untuk mengatasi makan berlebihan dan obesitas.
Intervensi yang menargetkan sistem memori ini mungkin lebih efektif daripada pendekatan konvensional yang berfokus pada pembatasan kalori.
Baca Juga: Pj Gubernur Bey Triadi Machmudin Sebut Dedi Mulyadi Dilantik Jadi Gubernur Jabar pada 6 Februari
Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa memori makanan tidak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang konteks dan pengalaman yang terkait dengan makanan tersebut.
Misalnya, jika seseorang memiliki kenangan positif tentang makan kue cokelat di acara ulang tahun, ingatan tersebut dapat memicu keinginan untuk makan kue cokelat lagi di kemudian hari.
Aspek kontekstual ini penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan intervensi untuk mengatasi makan berlebihan.
Penelitian ini memberikan landasan untuk penelitian lebih lanjut tentang bagaimana memori makanan memengaruhi perilaku makan pada manusia.
Temuan penelitian ini membuka kemungkinan baru untuk mengatasi makan berlebihan dan obesitas. Dengan menargetkan sirkuit memori hipokampus, pemicu memori yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat dan padat kalori dapat diganggu.
"Neuron-neuron ini penting untuk menghubungkan isyarat sensorik dengan asupan makanan," kata Dr. de Lartigue.
Studi kolaboratif ini dilakukan dengan rekan-rekan dari Universitas Pennsylvania dan Universitas Southern California dan didukung oleh Institut Kesehatan Nasional dan Asosiasi Jantung Amerika.
Studi di masa depan dapat menyelidiki bagaimana faktor-faktor seperti stres, emosi, dan lingkungan sosial berinteraksi dengan sistem memori ini untuk memengaruhi asupan makanan.
Pemahaman yang lebih komprehensif tentang mekanisme ini dapat membuka jalan bagi pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan obesitas yang lebih efektif.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengatasi masalah obesitas.
Kolaborasi antara ahli saraf, ahli gizi, dan psikolog sangat penting untuk mengembangkan intervensi yang komprehensif dan efektif.
Pendekatan ini harus mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, dan sosial dari perilaku makan.
"Kemampuan mereka untuk memengaruhi memori dan metabolisme membuat mereka menjadi target yang menjanjikan untuk mengobati obesitas di dunia yang kaya akan makanan saat ini," ujar Dr. de Lartigue.
Penelitian ini merupakan satu di antara langkah penting dalam memahami bagaimana otak kita memproses informasi terkait makanan dan bagaimana proses ini dapat memengaruhi kesehatan kita.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah