Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh researchgate.net, FOMO merupakan kondisi kecemasan individu akan ketertinggalan yang berakibat dikucilkan dari aktivitas dan pengalaman sosial. FOMO membuat kita terjebak dalam tuntutan untuk mengikuti standar yang ditetapkan oleh media sosial.
Melalui algoritmanya, media sosial terus menerus menampilkan gambaran hubungan yang sempurna, gaya hidup ideal, dan pekerjaan impian. Hal ini mendorong kita untuk terus berusaha mengejar, meraih dan menyesuaikan diri dengan standar yang selalu berubah
Pada fenomena FOMO, kita didorong untuk selalu berada dalam proses "menjadi apa" sehingga sulit merasa pas dan bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Hal ini disebabkan karena tren dan algoritma yang terus berganti dengan cepat.
Tekanan yang tiada henti untuk mengejar sesuatu dapat menyebabkan gangguan mental seperti anxiety dan depresi. Perasaan FOMO yang takut tertinggal dari momen penting dapat membuat kita merasa rendah diri dan menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang bekerja keras dibandingkan pencapaian orang lain.
Di tengah hingar bingar fenomena FOMO, munculah sebuah fenomena kontra yaitu Joy of Missing Out (JOMO). JOMO merupakan pilihan untuk memutuskan konektivitas dari media sosial demi kembali terhubung dengan dunia nyata dan menghargai momen yang ada saat ini.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh World Journal of Islamic Learning and Teaching, yang diterbitkan oleh international.aripafi.or.id, JOMO dapat dimaknai sebagai perasaan bahagia dan puas karena bisa bebas dari kesibukan dan tekanan media sosial.
JOMO mengajarkan untuk menghargai kedamaian dan kesendirian sebagai cara menciptakan kebahagiaan dalam diri, dengan sengaja melewatkan sesuatu momen tertentu.
JOMO juga mendorong untuk menghabiskan waktu lebih banyak di dunia nyata, berteman, dan berinteraksi dengan keluarga, serta menikmati setiap momen yang ada tanpa terganggu media sosial.
Melansir dari laman positivepsychology.
1. Membuat Daftar Kegiatan di Dunia Nyata yang Menjadi Minat Anda
Anda dapat membuat daftar kegiatan offline yang dulu pernah anda minati, seperti bermain golf, membaca koran, bersepeda, berenang, atau berkebun. Kemudian, tempelkan daftar tersebut di tempat yang mudah dilihat. Sehingga ketika anda merasa lelah dengan dunia maya, anda bisa melakukan aktivitas yang tidak melibatkan gawai.
2. Merencanakan Waktu Luang
Terlalu sering melihat algoritma dan scroll tiada henti dapat menyebabkan depresi. Membuat rencana waktu luang untuk membangun interaksi secara offline dengan teman atau keluarga, dapat menjadi cara membiasakan diri hidup secara JOMO
3. Melakukan Detoks Media Sosial
Komitmen untuk melepaskan diri dari dunia digital di hari weekend. Hidup secara analog dan nikmati momen yang terjadi saat ini
4. Menginvestasikan Waktu dengan Bberinteraksi secara Nyata dengan Orang Lain
Lakukan aktivitas offline bersama dengan keluarga, teman, tetangga, atau pasangan anda. Membangu hubungan secara offline dengan penuh makna akan lebih bermanfaat daripada scrolling media sosial.
5. Menyisihkan Waktu untuk Sendiri
Sempatkan me time, untuk melakukan aktifitas offline dengan diri sendiri. Aktivitas ini dapat dilakukan dengan berjalan jalan sendirian di alam, berendam air hangat, meditasi, yoga, atau mendengarkan musik di radio.
Dengan menerapkan JOMO, kita dapat belajar untuk menghargai apa yang kita miliki saat ini, bersyukur karena telah menjadi diri sendiri, dan menemukan kepuasan dalam momen yang sedang kita jalani saat ini.
Baca Juga: Bukan Hanya Tampang! Ini 7 Kepribadian Pria yang Bikin Perempuan Jatuh Hati
Editor : Candra Mega Sari