Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Boost Your Happiness! Yuk Pahami Cara Dopamine Dressing Tingkatkan Suasana Hatimu

Arsyad Dena Mukhtarom • Rabu, 6 November 2024 | 18:45 WIB
Ilustrasi seseorang yang sedang dopamine dressing
Ilustrasi seseorang yang sedang dopamine dressing

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa lebih semangat atau bahagia setelah memilih pakaian yang penuh warna? Ternyata, cara berpakaian bisa lebih dari sekadar soal gaya. Fenomena ini dikenal sebagai dopamine dressing, yaitu konsep memilih pakaian yang dapat memicu perasaan senang dan menambah energi positif.

Dilansir dari verywellmind.com pada Rabu (6/11), inilah penjelasan mengenai dopamine dressing.

Warna dan Suasana Hati

Banyak dari kita mungkin tidak menyadari bahwa warna di sekitar kita bisa sangat memengaruhi suasana hati. Bahkan, sejak zaman dahulu, warna telah digunakan untuk penyembuhan. Konsep ini dikenal sebagai chromotherapy atau colorology, terapi alternatif yang hingga kini masih digunakan untuk memengaruhi keseimbangan energi tubuh.

Dalam pendekatan Reiki, setiap warna memiliki getaran energi tersendiri yang berhubungan dengan chakra atau pusat energi di tubuh. Psikolog dan ahli Reiki, Ellen Albertson, PhD, RDN, menjelaskan bahwa misalnya, warna merah berhubungan dengan perasaan aman dan stabil, sementara jingga mewakili emosi dan kreativitas. Warna biru nila atau indigo biasanya diasosiasikan dengan intuisi.

Namun, makna warna ini tidak harus bersifat absolut. Bagi banyak orang, asosiasi warna sering kali subjektif. Artinya, apa yang kamu rasakan terhadap suatu warna mungkin berbeda dari orang lain.

Beberapa asosiasi warna memang cenderung lebih universal. Misalnya, warna hijau yang memberi efek menenangkan sehingga bisa mengurangi rasa cemas saat kamu memakainya. Warna biru biasanya dianggap damai, sehingga bisa membantu kamu merasa lebih rileks. Sebaliknya, warna merah bersifat merangsang, dan kuning bisa menambah energi positif.

Kenakan Apa yang Terasa "Kamu Banget"

Secara umum, warna memang memiliki makna tertentu, tetapi konteks budaya juga memegang peran penting dalam penafsiran warna pada pakaian. Di satu budaya, warna merah mungkin melambangkan keberanian, sementara di budaya lain, warna ini bisa berarti keberuntungan atau bahkan cinta. Namun, makna warna ini bisa jauh lebih personal bagi masing-masing orang.

Sering kali, kita menghubungkan warna tertentu dengan kenangan atau orang-orang penting dalam hidup kita. Maka, meskipun tren dopamine dressing cenderung menyoroti warna-warna cerah, pada akhirnya semua kembali ke preferensi pribadi. Satu gaya mungkin terasa luar biasa bagi seseorang, tetapi bagi orang lain, gaya yang sama bisa terasa kurang cocok.

Apakah kamu sudah punya gaya pribadi atau masih mencoba-coba, mengenali elemen pakaian yang membuat kamu merasa nyaman memerlukan perhatian lebih. Dr. Elizabeth Lombardo menyarankan agar kamu mulai dengan meningkatkan kesadaran diri terhadap suasana hati dan pilihan berpakaianmu.

Salah satu cara praktis adalah dengan membuat diary pakaian, mirip dengan diary makanan. Catat pakaian mana yang membuat kamu merasa paling nyaman dan mana yang terlihat bagus di teori, tapi mungkin tidak benar-benar terasa "kamu" saat dipakai.

Gaya Berpakaian di Dunia Virtual/Online

Sejak pandemi, dunia kerja dan sosial kita berubah drastis. Banyak dari kita kini bekerja jarak jauh atau dengan jadwal hybrid, yang sering kali mengurangi kesempatan untuk berdandan. Dengan semakin banyaknya rapat virtual dan waktu di rumah, memilih pakaian kadang jadi terasa sulit, terutama ketika stres dan kesehatan mental ikut memengaruhi.

Saat seseorang sedang stres, mereka cenderung memakai pakaian yang sama setiap hari, menurut Dr. Elizabeth Lombardo. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan memang erat kaitannya dengan suasana hati.

Namun, persepsi diri adalah hal yang kuat. Psikolog Jennifer Pfeuffer, PsyD, menjelaskan bahwa dengan maraknya rapat Zoom, kita jadi lebih sering melihat diri sendiri di layar dan, tanpa sadar, sering membandingkan atau mengkritik diri. Di sinilah dopamine dressing bisa memberikan pengaruh positif—pilihlah pakaian yang benar-benar nyaman kamu pakai dan suka kamu lihat di layar, tanpa terlalu memikirkan pendapat orang lain.

Melihat diri sendiri di layar dalam balutan pakaian yang membuatmu merasa baik bisa mengurangi pikiran negatif dan keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Bahkan, kenyamanan bisa menjadi kunci dopamine dressing di dunia virtual ini. Bagian bawah tubuh yang jarang terlihat di kamera bisa kamu beri sentuhan nyaman dengan celana atau kaos kaki favorit.

Tentu, bukan berarti piyama jadi pakaian sehari-hari. Namun, memilih pakaian yang nyaman dan menyenangkan bisa jadi pilihan ideal untuk tetap menjaga mood di tengah aktivitas virtual.

Keluar dari Zona Nyamanmu

Tak mengherankan jika dopamine dressing semakin populer. Kebebasan untuk berpakaian sesuai keinginanmu bisa menjadi pemicu dopamine tersendiri. Mungkin ini saatnya mencoba sesuatu di luar gaya yang biasanya kamu pakai.

Mencoba sesuatu yang baru, meski sederhana, dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Dr. Elizabeth Lombardo menyebut bahwa perubahan ini bisa membantumu melihat berbagai hal dengan sudut pandang berbeda.

Penelitian menunjukkan bahwa mencoba hal baru punya manfaat bagi kesehatan mental. Dalam konteks dopamine dressing, memakai pakaian dengan warna atau gaya yang tak biasa mungkin menuntut kepercayaan diri lebih. Tapi, ini bisa menjadi pengalaman yang memperkaya!

Psikolog Jennifer Pfeuffer menyarankan untuk memanfaatkan platform seperti Zoom sebagai ruang eksperimen gaya. Di sini, kamu bisa mencoba warna-warna cerah, gaya unik, atau tekstur yang memberi kenyamanan dan kebahagiaan.

Inti dari dopamine dressing adalah mengikuti selera dan preferensi pribadimu, bukan kesan yang ingin kamu tunjukkan pada orang lain. Kenakan warna yang membuatmu bahagia, coba gaya yang selama ini hanya kamu bayangkan, dan jauhi pakaian yang tidak terasa seperti "kamu". (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#dopamine dressing