Pemkab Majalengka Siapkan 100 Mahasiswa Kuliah dan Kerja di Jepang

Antara • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 11:25 WIB
Peluncuran program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja di Majalengka. (Pemkab Majalengka/Antara)
Peluncuran program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja di Majalengka. (Pemkab Majalengka/Antara)

 

JawaPos.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka siapkan 100 mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk mengikuti pendidikan tinggi sambil bekerja di Jepang melalui program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja.

Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, program itu menjadi upaya pemerintah daerah membuka akses kuliah bagi masyarakat yang terkendala biaya.

Sekaligus mempersiapkan generasi muda agar memiliki keterampilan untuk memasuki dunia kerja.

Baca Juga: Dishub Kota Cirebon Proyeksikan PBJT Listrik Rp 39 Miliar pada 2026

”Pendidikan harus menjadi salah satu prioritas. Kami ingin anak-anak Majalengka, khususnya dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” kata Eman Suherman.

Dia menuturkan program yang dijalankan bersama Universitas Teknologi Bandung (UTB) itu memprioritaskan peserta dari keluarga kelompok desil 1-4, yakni lapisan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terbawah.

Pada tahap awal, kata dia, 100 peserta akan menjalani pelatihan selama enam bulan dengan materi bahasa Jepang, pembentukan mental, kedisiplinan, dan keterampilan kerja sebagai persiapan sebelum melanjutkan pendidikan serta bekerja di Jepang.

Baca Juga: PAM Kota Cirebon Pastikan Reklasifikasi Pelanggan Berbasis Kondisi

Eman menjelaskan, skema terbaru tersebut memperluas pelaksanaan program Satu Desa Satu Sarjana yang sebelumnya berorientasi pada akses pendidikan tinggi dengan menambahkan kesempatan memperoleh pengalaman kerja di luar negeri.

”Kombinasi pendidikan dan pekerjaan diharapkan membuat peserta tidak hanya memiliki gelar sarjana, tetapi juga keterampilan praktis dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke daerah,” terang Eman Suherman.

Dia mengatakan, perluasan akses pendidikan masih diperlukan karena rata-rata lama sekolah masyarakat Majalengka baru mencapai 7,81 tahun atau setara kelas satu sekolah menengah pertama, sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah itu tercatat 72,37.

Untuk memperluas jumlah lulusan perguruan tinggi, pihaknya menargetkan sedikitnya 343 sarjana dari 334 desa dan kelurahan selama lima tahun, dengan capaian sementara sebanyak 170 sarjana hingga 2026.

”Kami berkoordinasi dengan perbankan untuk memfasilitasi pembiayaan keberangkatan peserta melalui skema yang disiapkan bersama pihak terkait, sehingga keluarga tidak harus menanggung sendiri kebutuhan biaya tersebut,” tutur Eman Suherman.

Sementara itu, Rektor UTB Muhammad Nasir mengatakan kampusnya akan mendampingi peserta selama masa persiapan enam bulan.

Baca Juga: Kejari Majalengka Musnahkan Barang Bukti 28 Perkara Inkrah

Terutama dalam penguasaan bahasa, kesiapan mental, dan peningkatan kompetensi sebelum menjalani pendidikan serta pekerjaan di Jepang.

”Kerja sama tersebut dapat memperluas kesempatan masyarakat kurang mampu mengenyam pendidikan tinggi sekaligus membekali mahasiswa dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk beradaptasi di lingkungan kerja internasional,” ungkap Muhammad Nasir.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
UTB pendidikan tinggi jepang majalengka