KKP Kembangkan Induk Unggul Dukung Budi Daya Ikan Nila di Cirebon

Antara • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:12 WIB
 
Direktur Ikan Air Payau Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP Fernando Jongguran Simanjuntak (dua dari kanan). (Fathnur Rohman/Antara)
Direktur Ikan Air Payau Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP Fernando Jongguran Simanjuntak (dua dari kanan). (Fathnur Rohman/Antara)

 

JawaPos.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan induk unggul ikan nila untuk memenuhi kebutuhan pembenih dan pembudi daya. Hal itu guna mendukung aktivitas budi daya komoditas perikanan, termasuk di Cirebon.

Direktur Ikan Air Payau Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya KKP Fernando Jongguran Simanjuntak mengatakan, pengembangan induk unggul dilakukan melalui 15 unit pelaksana teknis di sejumlah wilayah.

"Ditjen Perikanan Budi daya melalui unit pelaksana teknis yang ada tersebar di Indonesia ada 15, ini masih terus mengembangkan induk unggul, salah satunya juga tilapia," kata Fernando dilansir dari Antara.

Baca Juga: DPRD Kuningan Sebut Program Ketahanan Pangan Latih Keterampilan Warga Binaan

Dia mengatakan, induk unggul hasil pengembangan itu dapat diakses pembenih maupun pembudi daya, yang bergerak dalam penyediaan benih ikan nila.

Menurut Fernando, ketersediaan induk unggul menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan budi daya nila karena kualitas benih turut menentukan hasil produksi.

Selain benih, kata dia, efisiensi budi daya juga ditentukan teknologi, penggunaan pakan dan tata kelola pemeliharaan yang diterapkan pembudi daya sejak awal.

Baca Juga: KPU Cirebon Mutakhirkan Data Pekerja Migran dalam PDPB 2026

"Ini memang harus sinergi, terintegrasi dalam rangka perangkat budidaya yang baik, best aquaculture practices, sehingga hasil produksinya ini betul-betul efektif, efisien dan menghasilkan kualitas yang baik," ujar Fernando Jongguran Simanjuntak.

Fernando menyoroti budi daya nila yang dilakukan di perairan waduk dan danau karena kondisi lingkungan perairan dapat berubah, terutama ketika terjadi fenomena upwelling.

Menurut dia, pembudi daya perlu mengetahui daya dukung perairan sebelum menentukan jumlah ikan yang dibudidayakan.

Hal itu agar kepadatan tidak melebihi kemampuan waduk atau danau.

"Pertama memang carrying capacity menjadi perhatian penuh, berapa carrying capacity yang ideal untuk luasan danau atau waduk yang dijadikan area budi daya, itu harus dipahami pembudi  daya," tandas Fernando Jongguran Simanjuntak.

Dia mengatakan, potensi kematian ikan saat terjadi perubahan kondisi perairan, dapat ditekan apabila pembudidaya telah menyiapkan langkah mitigasi.

Baca Juga: Polres Indramayu Dalami Dugaan Penyelewengan Bantuan Beras

Dia menyampaikan, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menambah blower untuk membantu sirkulasi dan oksigen serta mengurangi kepadatan ikan ketika terjadi upwelling.

"Jadi, sekalipun upwelling terjadi setidaknya dampaknya tidak masif terhadap usaha budi daya, kasihan kalau tidak begitu," ujar Fernando.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
cirebon ikan nila kkp