JawaPos.com–Kondisi jalanan di Kota Cirebon yang hingga kini masih juga jauh dari kata mulus menjadi keluhan para pengguna jalan. Bahkan di antaranya mempertanyakan kerusakan badan jalan di sejumlah jalur protokol di Kota Cirebon terkesan dibiarkan pihak terkait.
”Tengok saja sepanjang Jalan Wahidin, banyak aspal yang mengelupas terasa kasar hingga setiap kendaraan guncangannya terasa. Bagaimana Kota Cirebon mau dibilang maju jadi kota wisata,” ujar Meylisa salah seorang pengguna jalan.
Dia menyebutkan, begitupun kondisi sangat ironis terkait badan jalan bergelombang bisa dirasakan di Jalan Siliwangi yang merupakan jalur protokol utama. Sejumlah kantor pemerintah seperti balai kota dan DPRD. Sejak masuk kota dari bundaran Krucuk, badan jalan tidak rata akibat banyak tambalan semakin mengesankan Kota Cirebon tidak terurus.
Baca Juga: Pemkab Majalengka Prioritaskan Akses Jalan untuk Sekolah Rakyat
Parahnya di Jalan Siliwangi ini, dinilai penerangannya sangat minim. Sehingga kalau malam karena pencahayaan PJU kurang, akhirnya masih gelap jauh dari kesan pusat kota yang banyak berdiri perkantoran.
Keluhan serupa perihal tidak mulusnya jalanan di Kota Cirebon ini, juga disampaikan Heni pengguna jalan lainnya warga Kota Cirebon. Menurut dia infrastruktur jalan yang baik tetap di mata masyarakat menjadi ukuran ada kemajuan atau tidaknya satu daerah.
Jalan protokol yang hingga kini tak pernah tuntas, yaitu Jalan Cipto. Terutama arah Jalan Kesambi dari perempatan Pemuda.
Baca Juga: BMKG Imbau Petani di Indramayu Antisipasi Dampak Kemarau Kering
”Bahkan itu di depan pos Polisi Grage, apa-apaan ada lobang ditandain pembatas jalan. Itu kan justru selain membahayakan, tidak elok juga dipandang,” tandas Heni.
Sementara itu, pantauan di lapangan, kondisi badan jalan tidak mulus juga dirasakan di sepanjang Jalan Kartini. Padahal jalur ini juga menjadi salah satu urat nadi di Kota Cirebon.
”Kawasan stasiun Cirebon juga kondisinya memprihatinkan. Selain jalan berlubang juga genangan air setiap turun hujan membahayan pengguna jalan. Belum lagi pencahayaan pada malam hari di pusat kota,” tutur Heni.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah