JawaPos.com–Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon memprioritaskan perbaikan pengelolaan air lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopi Luhur. Hal itu sebagai langkah mendesak untuk mengurangi pencemaran lingkungan di wilayah sekitar.
Kepala DLH Kota Cirebon Yuni Darti mengatakan, dari tujuh kolam penampungan air lindi yang ada, dua di antaranya saat ini tertutup sampah sehingga tidak berfungsi optimal.
”Semua kolam kami perbaiki dan kolam penampungan di bagian bawah akan diperluas supaya air lindi tidak bercampur dengan aliran sungai saat musim hujan,” kata Yuni Darti seperti dilansir dari Antara.
Pihaknya telah mengajukan anggaran sekitar Rp 21 miliar kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk membangun satu sanitary landfill baru dan meningkatkan pengelolaan air lindi. Usul itu, sedang dibahas bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon agar dapat masuk dalam pengajuan APBD 2026.
Dia menuturkan DLH sudah menjalankan langkah jangka pendek, seperti menutup sampah dengan tanah sesuai arahan Menteri Lingkungan Hidup, memperbaiki kolam dan saluran lindi yang bocor, serta menutup sumur-sumur warga yang tercemar sejak dua tahun lalu.
Sebagai pengganti, lanjut dia, pihaknya membangun sumur bor di sejumlah titik dan memeriksa kualitas airnya setiap enam bulan sekali.
”Di RT 1 Kelurahan Argasunya kami sudah buat sumur bor baru dan ada rencana tambahan dua titik lagi dari Wakil Wali Kota Cirebon. PDAM juga menyalurkan air seminggu sekali dengan toren di lokasi,” ujar Yuni Darti.
Yuni menegaskan persoalan TPA Kopi Luhur tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat, karena menyangkut revitalisasi menyeluruh yang memerlukan dana hingga Rp 83 miliar. Pihaknya menilai dukungan pemerintah pusat dan provinsi sangat penting agar penanganan bisa lebih cepat.
”Kami menunggu anggaran cair pada September 2025 ini untuk memulai perbaikan kolam lindi,” tandas Yuni Darti.
Sebelumnya, warga Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, telah menggelar aksi protes pada Senin (11/8) terkait pencemaran lingkungan yang diduga berasal dari TPA Kopi Luhur. Dalam aksinya, warga membawa air lindi dari kolam penampungan TPA dan menggunakannya untuk mengecat tembok di Kantor Wali Kota Cirebon sebagai bentuk kekecewaan.
Ketua RT 04 Kampung Kalilunyu Kelurahan Argasunya Asep Hidayatullah mengatakan pihaknya telah menyampaikan sejumlah poin desakan mulai dari evaluasi kinerja Pemerintah Kota Cirebon, audit menyeluruh, hingga penertiban TPA liar.
Dia menyebut air lindi dari kolam penampungan TPA sempat meluber akibat jebol dan perbaikan baru dilakukan setelah keluar sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Warga mengaku pencemaran sudah berlangsung beberapa tahun dan membuat air sumur menjadi keruh, berbau, serta menimbulkan gatal-gatal.
”Beberapa sumur telah ditutup, sementara kebutuhan air bersih dipenuhi dari air galon yang dibeli setiap minggu,” ucap Asep.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah