JawaPos.com–Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon memperluas jangkauan upaya pencegahan HIV/AIDS dengan mengoptimalkan pendekatan virtual. Khususnya dalam menjangkau kelompok-kelompok berisiko tinggi seperti pelaku prostitusi daring.
Sekretaris KPA Kota Cirebon Sri Maryati mengatakan, strategi tersebut dinilai efektif untuk melakukan pelacakan (tracking) dan penjangkauan terhadap populasi kunci yang sulit dijangkau secara konvensional.
”Jadi pendekatannya tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga melalui virtual. Ini memudahkan kami menjangkau kelompok-kelompok berisiko,” kata Sri Maryati seperti dilansir dari Antara.
Menurut dia, para mitra KPA telah diberikan pelatihan khusus untuk melakukan penjangkauan secara daring, guna menekan penyebaran HIV/AIDS di wilayah tersebut. Dalam dua tahun terakhir terjadi tren penurunan kasus HIV/AIDS di Kota Cirebon.
Jika sebelumnya jumlah kasus tercatat antara 200 hingga 300 per tahun, pada 2024 hanya terdapat sekitar 137 kasus.
”Adapun pada triwulan pertama tahun 2025, tercatat 37 kasus. KPA menargetkan tidak ada lagi kasus baru pada 2030 mendatang,” ujar Sri Maryati.
Dia menjelaskan, KPA tidak hanya fokus pada deteksi dini, tetapi juga memastikan para penyintas HIV menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara konsisten untuk mencegah penularan virus lebih lanjut.
”Hal ini penting agar mereka tidak menularkan virus kepada orang lain,” tutur Sri Maryati.
Berdasar data KPA, mayoritas kasus HIV/AIDS di Kota Cirebon masih berasal dari hubungan seksual heteroseksual, dengan laki-laki sebagai kelompok terbanyak.
”Secara rata-rata, kasus dari populasi kunci seperti waria, gay, dan pekerja seks sekitar 20 persen. Sedangkan 80 persen berasal dari populasi umum atau hubungan heteroseksual,” ucap Sri Maryati.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah