JawaPos.com–Pemerintah Kota Cirebon memfokuskan penanganan banjir melalui program normalisasi Sungai Kedungpane dan Sukalila yang dimulai pada awal Mei. Hal itu sebagai langkah konkret mengurangi risiko genangan saat musim hujan.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, normalisasi dua sungai tersebut menjadi prioritas utama. Sebab, keduanya kerap meluap saat hujan deras dan menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman.
”Fokus kita saat ini adalah normalisasi Sungai Kedungpane dan Sukalila. Ini langkah awal yang penting untuk mengatasi banjir di Kota Cirebon,” kata Effendi Edo seperti dilansir dari Antara.
Dalam normaliasi tersebut, pihaknya menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung agar pelaksanaan program tersebut berjalan dengan baik. Kolaborasi antara Pemkot Cirebon dan BBWS menjadi kunci dalam menanggulangi banjir, terutama dengan pengerjaan teknis yang melibatkan alat berat serta perencanaan sistematis.
Wali kota juga akan menertibkan bangunan liar di sepanjang bantaran sungai, setelah normalisasi sungai selesai. Namun, hal tersebut dilakukan secara humanis dan disertai solusi bagi warga terdampak.
”Kami ingin kawasan sungai tertata rapi, tapi tetap memperhatikan hak masyarakat. Penertiban akan dibarengi dengan pendekatan yang baik,” tutur Effendi Edo.
Sementara itu, Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung Dwi Agus Kuncoro menegaskan, pihaknya mendukung penuh rencana pemerintah daerah dalam mengatasi banjir. Normalisasi akan menjadi langkah awal, disusul pembangunan kolam retensi untuk menampung air limpahan dari hulu.
”Normalisasi ini penting. Kita juga akan siapkan peta ruas sungai dan titik masuk alat berat agar kegiatan bisa dilakukan berkala, tidak hanya satu kali,” terang Dwi Agus Kuncoro.
Dia menuturkan kolam retensi akan dibangun di atas aset milik BBWS maupun Pemkot Cirebon, sebagai bentuk antisipasi banjir kiriman yang kerap terjadi di daerah itu karena letaknya berada di wilayah hilir.
”Kolam ini sangat dibutuhkan agar air tidak langsung masuk ke pemukiman warga,” tandas Dwi Agus Kuncoro.
Agus juga mengungkapkan, kawasan bantaran sungai yang telah ditertibkan bisa dimanfaatkan menjadi ruang terbuka hijau, seperti taman sungai atau river garden yang dapat diakses publik.
”Sepadan sungai bisa jadi tempat warga beraktivitas. Penataan ini tak hanya mencegah banjir, tapi juga mempercantik kota,” ucap Dwi Agus Kuncoro.
Editor : Latu Ratri Mubyarsah