Menag Imbau Jemaah Haji Indonesia Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji di Armuzna
Fawwaz Ralli Perdana• Rabu, 4 Juni 2025 | 11:00 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan imbauan kepada jemaah haji Indonesia untuk menjaga kesehatan di tengah suhu ekstrem jelang fase puncak haji Armuzna, Minggu (1/6/2025) di Jeddah
JawaPos.com - Menjelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk menjaga kesehatan dan menaati aturan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. Imbauan ini disampaikan menyusul kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Tanah Suci.
"Cuaca saat ini sangat panas, bisa mencapai 50 derajat Celsius. Karenanya, jemaah diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari," ujar Menag Nasaruddin saat berada di Jeddah, Minggu (1/6/2025), dilansir dari kemenag.go.id.
Menag juga menganjurkan agar jemaah melaksanakan shalat Jumat di sekitar hotel masing-masing demi menghindari paparan langsung suhu tinggi. Ia mengingatkan bahwa ibadah harus dijalankan dengan mempertimbangkan kondisi fisik agar tidak menimbulkan bahaya kesehatan.
Saat di Arafah, jemaah diminta tidak keluar dari tenda, termasuk untuk melakukan kunjungan ke Jabal Rahmah. Kepolisian Arab Saudi disebut akan menertibkan pergerakan jemaah untuk menjaga keamanan dan keselamatan mereka.
"Kita juga diingatkan agar tidak memaksakan diri melakukan ibadah-ibadah sunnah yang berlebihan, seperti umrah berkali-kali, karena dapat menguras energi," kata Menag, mengingatkan pentingnya menjaga stamina.
Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Haji dan Menteri Kesehatan Arab Saudi, Pemerintah Saudi mengungkapkan keprihatinan atas tingginya jumlah jemaah wafat, terutama dari Indonesia. Mereka mempertanyakan sistem seleksi kesehatan sebelum keberangkatan.
Menag menjelaskan bahwa Indonesia sudah melakukan skrining ketat, namun faktor usia lanjut dan penyakit bawaan tetap menjadi tantangan. Selain itu, keterbatasan akses layanan medis oleh dokter Indonesia di Arab Saudi juga menjadi perhatian.
Sebelumnya, tenaga medis Indonesia tidak diizinkan memberikan layanan langsung di tenda atau klinik sendiri. Namun setelah pertemuan dan klarifikasi bersama pihak Saudi, aturan tersebut mulai dilonggarkan.
"Menteri Kesehatan Saudi akhirnya menyepakati bahwa dokter Indonesia dapat kembali memberikan layanan medis di klinik-klinik haji," ujar Menag. Ia menilai ini sebagai langkah maju dalam upaya meningkatkan kenyamanan jemaah.
Banyak jemaah, lanjutnya, lebih memilih berobat di klinik Indonesia karena lebih merasa aman dan nyaman, khususnya dalam hal komunikasi. Kendala bahasa seringkali membuat jemaah ragu untuk mendatangi rumah sakit setempat.
Kerja sama ini dinilai sebagai bentuk sinergi produktif antara dua negara untuk meningkatkan kualitas layanan haji. Masukan dari otoritas Saudi juga menjadi bahan evaluasi penting bagi Indonesia.
"Kita harus terus introspeksi dan mengambil pelajaran dari tahun ini. Tujuannya agar penyelenggaraan haji Indonesia semakin baik ke depan," tutup Menag.