Dalam sambutannya, Menag menyoroti tantangan yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), big data, dan konektivitas global. Ia menilai, kemajuan ini membawa manfaat luar biasa, namun juga berpotensi mereduksi nilai-nilai kemanusiaan jika tidak dibarengi dengan pendidikan berbasis spiritualitas.
"Pendidikan tidak boleh kehilangan arah. Jika tidak dikawal nilai keagamaan, teknologi justru bisa melahirkan generasi yang membahayakan," tegas Menag di hadapan jajaran pegawai Kementerian Agama, dilansir dari kemenag.go.id.
Menurut Menag, pendidikan keagamaan di Indonesia bukan sekadar formalitas, melainkan unsur krusial dalam menjaga jati diri bangsa. Ia menegaskan bahwa tugas Kementerian Agama adalah menjadi penjaga moral di tengah arus digitalisasi yang cepat.
"Pendidikan agama adalah pelita di tengah derasnya arus zaman. Ia bukan pelengkap, tapi penentu arah," ujar Nasaruddin dengan penuh semangat.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan konvensional tanpa dasar moral tidak akan mampu mencetak manusia seutuhnya. Maka dari itu, arah pendidikan nasional harus sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan.
"Pendidikan yang disebutkan tadi tidak sanggup, bahkan diprediksi tidak akan sanggup bisa memanusiakan manusia di dunia ini," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Menag mengajak seluruh jajaran Kementerian Agama untuk lebih aktif berkontribusi dalam penguatan pendidikan moral dan karakter. Ia meminta agar nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan, tetapi juga diwujudkan dalam setiap langkah pelayanan.
Menag menekankan pentingnya integritas, keteladanan, dan kerja ikhlas dalam mewujudkan pendidikan yang mencerdaskan sekaligus membina akhlak. Ia percaya bahwa dengan sinergi niat baik dan kerja nyata, pendidikan agama akan menjadi garda terdepan penjaga peradaban.
"Kita tidak bisa membiarkan sebuah perubahan tanpa direksi nilai-nilai moral keagamaan. Itulah sebabnya kita hadir memberi arah, bukan sekadar mengikuti arus," katanya.
Menag juga menyoroti peran strategis guru dan tenaga pendidik di lingkungan madrasah serta lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Menurutnya, mereka adalah pilar yang membentuk karakter peserta didik sejak usia dini.
Ia berharap momentum Hardiknas menjadi refleksi bersama bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemajuan moral. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara spiritual.
Menutup amanatnya, Menag Nasaruddin Umar menyerukan semangat gotong royong dalam membangun pendidikan yang berakar kuat pada nilai-nilai keagamaan. Ia yakin, pendidikan yang seimbang akan melahirkan generasi unggul dan bermoral tinggi.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Saudi Super Ketat, Jangan Berangkat Haji Tanpa Visa Resmi