Chip H20 adalah salah satu produk andalan Nvidia untuk pasar China. Namun kini, akses ke pasar Tiongkok semakin dibatasi oleh kebijakan ekspor dari AS.
Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah strategis AS untuk mempertahankan dominasi di bidang kecerdasan buatan. Pemerintah ingin mencegah teknologi paling canggih jatuh ke tangan pesaingnya, terutama China.
Dilansir dari Reuters, saham Nvidia langsung turun sekitar 6% dalam perdagangan setelah jam bursa akibat pengumuman ini. Tidak hanya Nvidia, saham AMD juga merosot hingga 7%.
Seorang juru bicara Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa pihaknya mengeluarkan aturan lisensi baru. Aturan ini mencakup ekspor chip seperti H20 milik Nvidia, MI308 milik AMD, dan produk sejenis.
"Departemen Perdagangan berkomitmen menindaklanjuti arahan Presiden untuk melindungi keamanan nasional dan ekonomi kami," kata juru bicara.
Pihak AMD belum memberikan komentar resmi atas kebijakan ini. Namun jelas bahwa keputusan ini membawa dampak signifikan ke pasar chip global.
Bagi Nvidia, chip H20 sangat vital untuk tetap bisa bermain di industri AI China yang sedang berkembang pesat. Perusahaan besar seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance dilaporkan mulai meningkatkan permintaan.
Meskipun H20 tidak secepat chip Nvidia lainnya dalam hal pelatihan AI, chip ini masih cukup tangguh dalam proses inference. Proses ini adalah saat AI memberikan jawaban atas pertanyaan pengguna.
CEO Nvidia, Jensen Huang, bahkan mengatakan bahwa pasar inference akan menjadi kunci masa depan industri chip AI, dan Nvidia disebut siap mendominasi segmen.
Namun kini, harapan itu terpukul setelah pemerintah AS menyebut H20 bisa disalahgunakan untuk membuat superkomputer. Meski daya komputasinya tidak setinggi chip Nvidia lainnya, kemampuan konektivitas H20 tetap tinggi.
Kecepatan konektivitas itu bisa menjadi senjata untuk membangun superkomputer. Sejak 2022, AS memang sudah membatasi ekspor chip yang bisa digunakan dalam superkomputer ke China.
Think tank Institute for Progress yang berbasis di Washington, D.C. mendukung pembatasan ini. Mereka menyebut beberapa perusahaan China kemungkinan besar sudah mulai membangun sistem tersebut.
"Setidaknya salah satu pembelinya, Tencent, telah memasang H20 di fasilitas pelatihan model besar, yang kemungkinan melanggar aturan yang ada," tulis lembaga itu. Mereka juga menyebut proyek DeepSeek kemungkinan juga melanggar aturan serupa.
Nvidia mengungkapkan bahwa pada 9 April lalu, pemerintah AS memberi tahu bahwa chip H20 membutuhkan lisensi untuk bisa diekspor ke China. Lima hari kemudian, aturan itu ditetapkan berlaku tanpa batas waktu.
Namun hingga kini belum jelas apakah pemerintah AS akan memberikan lisensi atau tidak. Pihak Nvidia juga menolak memberikan komentar tambahan di luar dokumen resmi mereka.
Nvidia menyebut beban biaya $5,5 miliar ini berkaitan dengan stok chip H20, komitmen pembelian, dan cadangan terkait lainnya. Kerugian besar yang memperlihatkan betapa pentingnya pasar China bagi Nvidia.
Editor : Candra Mega Sari