Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Ancaman Cuaca Panas Hantui Para Peserta Piala Dunia 2026 di Amerika, Kanada, dan Mexico

Muhammad Rayhan Satria Aji • Selasa, 11 Maret 2025 | 22:00 WIB

Logo dan visual resmi Piala Dunia 2026 (Dok. fifa.com)
Logo dan visual resmi Piala Dunia 2026 (Dok. fifa.com)
JawaPos.com - Mantan gelandang tim nasional Amerika Serikat, Tab Ramos, mengenang pengalamannya bermain di Piala Dunia 1994 yang berlangsung di tengah terik matahari musim panas.

Dikutip dari The Guardian, Ramos menganggap pertandingan pertama tim Amerika melawan Swiss di Pontiac Silverdome adalah momen terpanas yang pernah ia alami sepanjang kariernya.

Sehari sebelum pertandingan, suhu di Michigan mencapai 37°C. Saat kick-off pukul 11.30 siang, suhu turun sedikit menjadi 32°C. Tetapi kondisi di dalam stadion lebih parah, Silverdome yang merupakan stadion NFL dirancang untuk menahan panas, bukan mengeluarkannya, sehingga suhu di dalam mencapai 41°C. Para penonton di tribun atas bahkan mengalami pingsan karena panas yang luar biasa.

"Kami seperti direbus di dalam sana," kata Ramos.

Panas ekstrem menjadi keluhan utama para pemain hingga partai final antara Brasil dan Italia di Pasadena, California yang dimainkan dalam suhu 38°C. Tetapi, FIFA tetap bersikap acuh tak acuh terhadap keluhan tersebut.

"Jurnalis pernah memprediksi pemain akan mati di Meksiko (1986)," ujar juru bicara FIFA kepada LA Times saat itu, menekankan bahwa belum ada korban jiwa akibat panas dalam turnamen sebelumnya.

Lebih dari 30 tahun kemudian, kondisi serupa diperkirakan akan terjadi di Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari 16 kota tuan rumah, 14 di antaranya diprediksi mengalami suhu tinggi yang berisiko bagi pemain. Sebuah studi di International Journal of Biometeorology menyarankan agar pertandingan sore hari dihindari untuk mengurangi dampak panas ekstrem.

Sebanyak sembilan stadion diperkirakan mengalami suhu di atas ambang batas aman, terutama di kota-kota dengan stadion terbuka seperti East Rutherford, Foxboro, Kansas City, Miami, Monterrey, dan Philadelphia. Studi lain bahkan memperkirakan 10 dari 16 stadion akan menghadapi risiko tinggi akibat stres panas yang ekstrim.

Dr. Donal Mullan, ilmuwan iklim dari Queen's University Belfast, menyebut bahwa ancaman panas di Piala Dunia 2026 lebih besar dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Pada Piala Dunia Qatar, jadwal dipindah ke bulan November dan Desember untuk menghindari panas ekstrem. Sesuatu yang tidak dilakukan di Piala Dunia 2026 yang tetap diadakan di bulan Juni-Juli.

Di Qatar, suhu WBGT (Wet Bulb Globe Temperature) atau suhu yang dirasakan tubuh maksimum hanya mencapai 23°C, jauh lebih rendah dibandingkan prediksi suhu di AS. FIFA dan US Soccer merekomendasikan cooling break saat suhu WBGT melampaui 32°C, sedangkan badan sepak bola Australia menetapkan ambang batas lebih rendah di 28°C. Namun, suhu di bawah ambang batas ini pun masih berbahaya.

Pada Copa America 2024 di AS, seorang asisten wasit pingsan akibat panas meskipun suhu WBGT saat itu hanya 27,5°C. Beberapa hari sebelumnya, bek Uruguay Ronald Araujo harus ditarik keluar dari pertandingan melawan Panama di Miami karena dehidrasi.

Hingga saat ini, FIFA belum mengumumkan jadwal jam kick-off untuk Piala Dunia 2026. Belum ada kepastian apakah mereka akan mempertimbangkan keselamatan pemain dengan menghindari pertandingan di siang hari.

"Jawaban paling logis adalah menghindari jadwal siang hingga sore," ucap Donal Mullan.

Namun, dengan format turnamen yang lebih besar, mengatur jadwal pertandingan menjadi lebih sulit. Dalam dua putaran pertama penyisihan grup, akan ada empat pertandingan per hari. Pada fase terakhir penyisihan grup, jumlahnya meningkat menjadi enam pertandingan per hari, sementara babak 32 besar akan memiliki lima hari dengan tiga pertandingan per hari.

FIFPro, serikat pemain sepak bola profesional, mendesak FIFA untuk menurunkan ambang batas suhu WBGT menjadi 26°C untuk jeda pendinginan dan 28°C untuk penundaan atau pembatalan pertandingan. Namun, beberapa pakar berpendapat bahwa langkah ini masih belum cukup untuk melindungi pemain dan official pertandingan.

Kesehatan pemain pun semakin dikhawatirkan dengan padatnya jadwal akibat perubahan format turnamen seperti Liga Champions dan Piala Dunia Antar Klub. Pemain berpotensi akan menjalani Piala Dunia dalam kondisi fisik yang lebih rentan terhadap panas ekstrem.

"Jika melihat jadwal Piala Dunia yang digelar pada bulan Juni dan Juli, ini terjadi setelah musim yang sangat melelahkan bagi banyak pemain," kata Mullan.

"Dengan sekitar 50 hingga 55 pertandingan yang akan mereka jalan dalam setahun, banyak dari mereka sudah berada dalam risiko besar," tambahnya.

Editor : Candra Mega Sari
#musim panas #tab ramos #piala dunia 2026