Cirebon Bae Lifestyle Viralpedia Wisata dan Kuliner

Mengenal Upacara Seren Taun di Cigugur Kuningan, Perayaan untuk Mensyukuri Hasil Panen

Miratul Hayati Assalam • Rabu, 13 November 2024 | 19:02 WIB
Upacara Seren Taun di Cigugur Kuningan. (Dok. Pemkab Kuningan)
Upacara Seren Taun di Cigugur Kuningan. (Dok. Pemkab Kuningan)

JawaPos.com–Kuningan kaya akan berbagai warisan budaya yang berharga dan wajib dilestarikan. Terletak di Jawa Barat, Kuningan tidak hanya terkenal dengan pesona alam yang menakjubkan, tetapi juga dengan tradisi budaya serta adat istiadat yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik.

Salah satu contohnya adalah Upacara Seren Taun. Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kuningan, Rabu (13/11), Upacara Seren Taun merupakan tradisi yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dan doa masyarakat Sunda. Terutama para petani, atas suka dan duka yang mereka alami di bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang.

Upacara Seren Taun dilaksanakan setiap tahunnya pada 22 Bulan Rayagung, bulan terakhir dalam perhitungan kalender Sunda. Upacara diawali dengan upacara ngajayak atau upacara menjemput padi pada 18 Rayagung.

Padi merupakan objek utama dari Upacara Seren Taun karena dianggap sebagai lambang kemakmuran. Salah satu kegiatan utama pada 22 Rayagung adalah upacara menumbuk padi. Sebanyak 20 kuintal padi akan ditumbuk pada hari tersebut, sementara 2 kuintal lainnya akan digunakan sebagai benih.

Bilangan 20 dan 2 yang digunakan dalam Upacara Seren Taun memiliki makna. Menurut situs resmi Pemerintah Kabupaten Kuningan, bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi di tubuh manusia, seperti rambut, kulit, kuku, daging, bulu, darah, otak, jantung, ginjal, usus, lambung, lemak, sum-sum, tulang, empedu, maras, limpa, hati, dan paru. Sedangkan bilangan 2 mengacu kepada konsep dualitas seperti pagi dan malam, suka dan duka, serta baik dan buruk.

Upacara Seren Taun dibuka dengan prosesi tradisional Damar Sewu, yang memiliki menggambarkan manusia dalam menjalani proses kehidupan baik pribadi maupun sosial. Upacara ini ditutup dengan Seribu Kentongan yang memiliki makna senantiasa mengingat asal-usul serta hukum adikodrati yang menentukan nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Selain ritual-ritual sakral seperti Pesta Dadung dan Ngamemerokeun, berbagai penampilan kesenian dan hiburan juga diselenggarakan dalam pelaksanaan Upacara Seren Taun. Penampilan tersebut termasuk kisah-kisah klasik pantun Sunda yang bercerita mengenai perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri, Tari Buyung, Tarawangsa, dan Tari Pwah Aci.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah
#kuningan #petani #seren taun #sunda